Pitung Cyberpunk The Series
PITUNG CYBERPUNK
BAB 1: DATA BUAT RAKYAT
Hujan asam turun kayak utang pinjol. Deras. Tidak sopan. Nggak kenal ampun.
Udara berwarna abu-abu kehijauan itu menghantam atap seng yang berkarat, berdesis saat menyentuh jalinan kabel listrik telanjang, dan merembes ke pipa-pipa bocor, sebelum akhirnya membasahi kepala orang-orang yang masih nekat jualan mi sintetis di pinggir gang kumuh Marunda Bawah. Bau logam teroksidasi bercampur kepulan asap solar murahan memenuhi udara malam yang pengap.
Di atas sana, jauh di balik kabut polusi dan lapisan awan beracun, Kota Atas bersinar terang layaknya surga palsu. Gedung-gedung pencakar langit milik mega-korporasi VOC Corp menjulang tinggi hingga tak terlihat menonjol. Iklan hologram raksasa setinggi ratusan meter menari-nari menembus kegelapan langit, menampilkan kemewahan yang mustahil digapai orang kecil.
“Cantik itu pilihan.”
“Tingkatkan hidupmu sekarang.”
“VOC BioLife, Masa Depan Manusia.”
Ironisnya, tepat di bawah kilauan hologram yang menjanjikan masa depan itu, warga Kota Bawah harus mengantre air bersih sulingan sambil menenteng jeriken-jeriken bocor.
Di atas sebuah jembatan penyeberangan besi tua yang sudah miring ke sebelah, seorang pemuda berdiri santai sambil memperhatikan denyut nadi kota yang timpang. Peci hitamnya basah kuyup terkena hujan. Baju Pangsi hitam yang dikenakannya terlihat sederhana, jahitannya kasar di beberapa sudut. Bagi mata awam yang melintas sekilas, dia hanyalah pemuda bengkel biasa yang sedang berteduh.
Namun, jika diperhatikan lebih dekat di balik celah kain bajunya, lapisan subdermal armor berbentuk jalinan heksagonal berwarna oranye redup tampak berdenyut pelan, menyala mengikuti ritme detak jantungnya.
Namanya Rajab. Tapi malam ini, di radio frekuensi ilegal dan percakapan orang-orang terdengar, mereka menemukan nama lain: Pitung.
"Rai, statusnya?" Suara Rajab terdengar tenang, hampir tanpa beban di tengah badai hujan.
Di kontak mata kiri Rajab, lensa sibernetiknya berkedip, menampilkan antarmuka digital berwarna hijau neon secara instan.
[KONEKSI: STABIL]
[FIREWALL VOC CORP: DITEMBUS 89%]
Suara melengking seorang perempuan langsung berdengung di dalam kepala Rajab melalui implan audio internalnya. "Buset dah, server ini bukan server sembarang! Kagak ada bedanya kayak benteng perang zaman kompeni dulu. Sabar dikit napa, Jab!"
Rajab menyempatkan diri tersenyum tipis. "Lu kan jago."
"Jago sih jago...tapi yang bikin sistem keamanan ini kayaknya tipe manusia gila kerja yang kagak pernah disentuh matahari," gerutu Raisah.
Perempuan itu adalah Netrunner paling menyebelin sekaligus paling jenius di seantero Kota Bawah. Entah sekarang dia sedang memperbaiki di mana. Bisa jadi di warnet bawah tanah yang pengap, atau di bekas musala tua yang diubah menjadi markas peretas. Cewek itu punya kebiasaan berpindah tempat yang cepat, mirip kecoak yang ketakutan setengah mati kalau melihat semprotan serangga.
Rajab melirik arloji digital yang tertanam di pergelangan tangan kirinya. Dua menit lagi sebelum jadwal patroli rutin VOC lewat di sektor ini. Pas banget.
Tiba-tiba, WUUUUUNG!
Suara dengung mesin berfrekuensi tinggi memecah kenyamanan hujan malam. Tiga unit pengawas drone berwarna hitam legam menukik turun dari balik kabut polusi seperti burung gagak mekanis. Sensor optik berwarna merah darah dari mesin ketiga itu langsung menyorot tepat ke wajah Rajab, mengunci posisinya.
[PERINGATAN.]
[AKTIVITAS TERDETEKSI ILEGAL.]
[MENYERAH ATAU DIMUSNAHKAN.]
Rajab menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan hingga membentuk kepulan uap tipis. "Waduh," gumamnya pelan. "Belom juga mulai kerja, udah disuruh menyerah aja."
Suara Raisah langsung memekik di jalur komunikasi. "Pitung, jangan ngajak ribut dulu! Transfer datanya belom kelar, tinggal beberapa persen lagi!"
"Tenang, Rai."
"Tenang pala nenek lu! Itu drone tipe Vanguard, kelas tempur!"
Rajab malah tertawa kecil, melangkah satu tindak ke depan. "Drone doang."
BRAK!
Satu kilatan laser biru ditembakkan lurus ke arah dada. Namun, sebelum energi murni itu sempat menyentuh helaian benang baju pangansinya, WHOOOM!
Sebuah perisai transparan berbentuk pola sarang lebah muncul di udara, berpendar keemasan. Personal Quantum Shield rakitan Rajab bekerja sempurna. Kilatan laser tersebut mental ke atas, menghantam papan reklame logam bekas di seberang jalan hingga meledak riuh.
Drone ketiga VOC langsung beralih ke mode tempur agresif. Lampu sensor mereka yang semula merah terang kini berubah menjadi merah gelap pekat. Artinya jelas: izin eliminasi di tempat telah keluar dari sistem pusat.
"Rai."
"Apa lagi?!"
"Hitung waktu."
"Hah?"
Rajab menyeringai lebar. "Tiga puluh detik."
"Rajab, jangan songong lu,"
BUAK!
Belum sempat Raisah menyelesaikan omelannya, Rajab sudah melompat. Komponen exoskeleton eksternal yang tertanam di sepanjang tulang kakinya menyemburkan dorongan hidrolik kecil. Tubuh pemuda itu melesat tinggi ke udara, membelah rintik hujan.
SREET,
Sebuah golok plasma ditarik cepat dari sarungnya di pinggang kiri. Bilah energi murni berwarna oranye menyala terang, mengusir kegelapan malam Marunda. Tampak cantik sekaligus mengerikan di saat yang sama.
“Yaelah…” gumam Raisah dari balik penyuara jemala. “Lu kalau udah megang itu golok, gayanya kagak beda kayak abang-abang parkiran yang mau tawuran antar-geng.”
Drone pertama melesat maju, mencoba menabrakkan diri. Rajab memutar tubuhnya di udara dengan kelenturan yang mustahil dimiliki manusia biasa.
SLASH!
Golok plasma memotong badan baja drone itu menjadi dua bagian presisi. Ledakan sirkuitnya membuat hujan air muncrat ke segala arah.
Drone kedua langsung memberondongkan rentetan laser cepat. Rajab mendarat dengan posisi rendah, lututnya hampir menyentuh lantai jembatan yang becek. Gerakannya tampak tidak biasa, aneh, patah-patah, namun mengalir secara ritmis. Ini bukan gaya bertarung taktis tentara korporat, bukan pula gaya bela diri brutal jalanan.
Ini silat. Tradisi Silat Rawa Belong. Luwes, cepat, dan licin bagai belut di atas lumpur rob.
DUAK!
Satu pukulan telapak tangan terbuka yang dilapisi penguat baja hidrolik menghantam telak bagian inti drone kedua. Kerangka mesin itu langsung berdering ke dalam. Tanpa memberi jeda, Rajab memutar tumit kakinya, mengitari golok plasma dalam satu gerakan melingkar yang bersih.
SRAAAK!
Drone kedua rontok, hancur menjadi rongsokan tak berguna di atas aspal.
"Transfer selesai!" teriak Raisah, suaranya memenuhi nada lega yang kentara.
Di sudut pandang optik kiri Rajab, angka-angka digital langsung berubah.
[500.000 CIP KREDIT BERHASIL DITRANSFER]
[TARGET ENKREPSI: CHIP WARGA KAWASAN MARUNDA BAWAH]
bersambung...
Baca juga:
- Desa Ini Menyeduh Kenangan… dan Aku Tak Pernah Sama Lagi
- Di Bawah Langit yang Sama, Kami Memiliki Mimpi yang Berbeda…
- Ammar dan Rahasia Pesawat Terbang
.jpg)
Komentar
Posting Komentar