Pitung Cyberpunk The Series BAB 3
Pitung Cyberpunk: Kala Legenda Betawi Melawan VOC di Marunda Bawah
Lanjutan...BAB 2
Kalau ada satu hal yang paling cepat menyebar di Kota Bawah, itu bukanlah penyembuhan virus siber. Bukan berita resmi dari dewan arah. Bukan juga diskon besar-besaran untuk mi sintetis rasa ayam kampung premium.
Tapi gosip.
Dalam waktu kurang dari dua hari, nama "Pitung" sudah melesat dari satu gang ke gang lain, merembes lewat celah-celah bedeng, layaknya sinyal wifi ilegal yang bocor tanpa proteksi firewall.
Di sebuah warung kopi reot yang berdiri tepat di pinggir jalur rel magnetik rusak, kepulan asap rokok elektrik murah berbaur dengan percakapan hangat orang-orang siber.
"Katanya semalam dia bisa nahan tembakan laser kelas berat cuma pake telapak tangan kosong, beneran!" ujar seorang pria paruh baya dengan lengan prostetik berkarat, matanya berbinar lebar.
"Ah, lebay lu! Gak usah mengada-ada napa," sahut temannya sambil menyeruput kopi.
"Buset, gue kagak bohong! Adek ipar gue lihat sendiri dari balik jendela bedengnya!" seru pria itu defensif. "Katanya memancarkan kilatan merah siber, tingginya dua meter lebih, terus pas ditembak misil... wussh, dia bisa menghilang jadi asap!"
"Lah, kalau bisa menghilang begitu mah namanya setan, bukan manusia," cibir yang lain.
"Nah, makanya! Jangan-jangan dia emang setan siber yang dikirim buat balas dendam ke orang-orang atas!"
Di pojokan warung yang remang-remang, seorang kakek tua menyeruput kopi hitam sintetisnya pelan-pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kagak ngerti dah gue sama jalan pikiran anak muda zaman sekarang," gumamnya lirih pada cangkir sengnya. "Dikit-dikit siber, dikit-dikit teknologi. Dulu mah yang kayak begitu namanya siluman Rawa Belong."
Sementara itu, beberapa blok dari warung kopi, di sebuah gang becek yang luput dari jangkauan sensor VOC, sekelompok anak kecil sedang asyik bermain perang-perangan siber.
Seorang bocah laki-laki mengenakan ember plastik bekas di kepalanya sebagai helm taktis, sementara bocah lainnya mengacungkan sebatang pipa paralon usang sambil berteriak lantang dengan logat Betawi yang kental:
"GUE PITUNG! MAJU LU SEMUA KOMPENI SIBER!"
"YEAAAH!"
"MATI LU DRONE VOC!"
REM!
Ayunan pipa paralon itu malah mendarat telak di dahi temannya yang ikut jadi tentara korporat.
"WOY, SAKIT GOBLOK! JANGAN KENCENG-KENCENG NAPA!"
"Yaelah, namanya juga perjuangan rakyat, musti ada darahnya dikit!"
Di ujung Rawa Belong Bawah, suasana di dalam bengkel Rawa Tech justru terasa seramai pasar malam darurat.
Rajab sedang duduk di kursi kerjanya, fokus membenarkan sambungan kabel hidrolik pada tangan prostetik seorang tukang kerak telor keliling yang lengannya tiba-tiba copot gara-gara kesetrum aki sub-sektor ilegal.
"Bang Rajab, tolonglah... jasanya jangan mahal-mahal ya," rajuk tukang kerak telor itu dengan wajah memelas. "Soalnya anak gue yang paling gede belom bayar iuran sekolah virtual bulan ini."
Rajab mengetatkan baut terakhir dengan obeng lasernya hingga terdengar bunyi klik mekanis yang rapi.
"Udah, kelar. Coba lu gerakin."
Tukang kerak telor itu terperanjat, memutar pergelangan tangan besinya yang kini bergerak mulus tanpa hambatan.
"Lah? Cepet amat, Bang?"
"Lu pikir gue montir amatiran yang musti nonton tutorial internet dulu?" canda Rajab sambil menyodorkan sabak digital untuk tagihan.
Angka kredit yang tertera di sana sangat kecil, bahkan hampir tidak masuk akal untuk biaya servis siber sekorporat itu.
"Bang... ini mah kemurahan. Kagak nutup buat beli timah las lu," ujar si bapak dengan rasa tidak enak yang kentara.
Rajab menyandarkan punggung santai ke kursi.
"Yaudah, sisa bayarannya lu ganti pake doa aja pas salat."
Orang itu melongo.
"Serius lu, Bang?"
"Emang muka gue keliatan kayak debt collector VOC yang suka malakin warga?"
Wajah lesu si bapak seketika berubah menjadi senyuman lebar yang tulus. Dia menjabat tangan Rajab erat-erat.
"Ya Allah makasih banyak Bang Rajab. Semoga rezeki lu mengalir terus kayak air Kota Atas dah."
"Amin."
Baru saja tukang kerak telor itu melangkah keluar dari pintu seng bengkel,
REM!
Dji'ih masuk dengan napas memburu, wajah gempalnya basah oleh keringat dingin.
"JAB! GAWAT, JAB!"
Rajab bahkan tidak perlu repot-repot menoleh dari meja kerjanya.
"Apalagi sekarang, Dji? Kipas rice cooker lu pecah?"
"Bukan, buset! Nama lu masuk berita utama korporat!"
Rajab langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh tajam.
"Hah? Serius lu?"
Dji'ih menarik sebuah proyektor hologram portabel dari dalam tas taktisnya dan menekan tombol aktif. Detik berikutnya, pendaran cahaya biru memproyeksikan siaran langsung dari saluran VOC News.
Seorang pembawa acara perempuan dengan simetri wajah sempurna hasil operasi plastik bio-genetik sedang berbicara dengan senyuman yang terasa sangat artifisial.
"Seorang teroris siber berbahaya yang menjuluki dirinya sebagai 'Pitung' kembali melakukan tindakan kriminalitas berat terhadap aset-aset vital milik VOC Corp semalam..."
Rajab malah menyunggingkan seringai lebar, bersedekap dada.
"Buset, keren juga ya. Muka gue masuk TV dewan langsung."
"Fokus, WOY!" sentak Dji'ih kesal, menyenggol bahu Rajab. "Muka lu hampir keliatan jelas di situ!"
Di layar hologram, visual bergantian menampilkan rekaman video amatir beresolusi rendah saat Rajab menghancurkan drone tempur semalam. Untungnya, visualisasi wajahnya terdistorsi oleh lebatnya hujan asam dan pekatnya asap ledakan. Namun, siluet peci hitam yang bertengger di kepalanya terlihat begitu mencolok.
"VOC Corp mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk segera melapor apabila melihat individu mencurigakan yang mengenakan atribut tradisional di area publik..."
Tawa Rajab langsung pecah di dalam ruangan belakang.
"Hahaha! Zaman sekarang peci doang udah dibilang atribut mencurigakan."
Dji'ih ikut menghempaskan tubuhnya ke kursi, lalu menyambar rokok elektrik di atas meja kerja Rajab dengan dongkol.
"Parah emang kompeni. Besok-besok kalau kita keliling pake sarung, bisa-bisa dikira bawa senjata biologi pemusnah massal."
Tiba-tiba...
BZZZT!
Lampu bengkel berkedip merah. Monitor utama di dinding berderak statis sebelum akhirnya memunculkan wajah Raisah secara paksa. Lingkar hitam tebal menghiasi bawah matanya, dan lensa sibernetik birunya tampak meredup lesu. Gadis itu jelas-jelas belum tidur sekejap pun sejak semalam.
"Kenapa lagi, Rai?" tanya Rajab, menyadari gelagat tidak beres.
"Karena hidup gue ditakdirkan buat selalu sial," ketus Raisah masam.
"Gue nanya soal data, bukan nasib lu."
"Oh."
Raisah menarik napas panjang, menatap Rajab dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah dingin.
"Hinne turun langsung ke lapangan."
Suasana riuh di dalam bengkel Rawa Tech seketika menghilang tak berbekas. Dji'ih bahkan perlahan-lahan menurunkan rokok elektrik dari mulutnya dengan tangan yang agak gemetar.
"Serius lu, Rai?" tanya Dji'ih memastikan.
Raisah mengangguk kaku.
"Komandan Schout Hinne sekarang sudah berada di wilayah teritorial Kota Bawah. Pasukan elite taktis keamanan VOC sedang dikerahkan untuk menyisir semua sektor. Drone patroli ditambah tiga kali lipat, pos pemeriksaan militer didirikan di setiap perbatasan gang, dan yang paling parah..."
Raisah menjeda kalimatnya.
"...mereka mulai melakukan pemindaian genetik massal untuk mencari identitas asli lu, Jab."
Dji'ih menelan ludah dengan susah payah.
"Waduh... berabe ini."
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Rajab justru mengembuskan napas dengan ekspresi lempeng.
"Terlambat. Mereka emang udah nyari gue dari semenjak gue pertama kali ngeretas jalur logistik mereka."
"Ya sekarang tapi masalahnya berbeda, Rajab songong!" pekik Raisah, mulai kesal dengan kepolosan sahabatnya. "Sekarang nominal harga kepala lu dimasukkan ke tingkat ekstrem!"
"Memangnya naik jadi berapa?"
Raisah mengetuk layarnya, menampilkan selebaran VOC digital dengan logo mahkota perak.
[BURONAN PRIORITAS TINGKAT MERAH]
[IDENTITAS: PITUNG]
[HADIAH PENANGKAPAN: 5.000.000 CIP KREDIT]
Dji'ih yang sedang minum langsung menggigil hebat, batuk-batuk hingga wajahnya memerah.
"L-LIMA JUTA KREDIT?!" histerisnya.
Rajab sendiri hanya bisa mengerjapkan matanya, agak terpana melihat deretan angka nol di layar.
"Buset... mahal juga ya gue."
"Buset apaan?!" seru Raisah kecewa. "Uang segitu cukup buat beli satu unit apartemen mewah di Kota Tengah, lengkap dengan pasokan udara bersih tanpa batas selama seumur hidup!"
Dji'ih pelan-pelan menolehkan kepalanya, menatap Rajab dari atas sampai bawah dengan pandangan yang tiba-tiba aneh.
Rajab yang menyadari perubahan atmosfer itu langsung membelalakkan matanya penuh selidik.
Keheningan melanda bengkel selama beberapa detik.
Dji'ih mulai menggeser kursi plastiknya perlahan-lahan mendekati posisi Rajab.
"Tusukan..."
"Lu mau ngapain, Dji?" tanya Rajab dingin, satu tangan perlahan meraih obeng laser bertenaga tinggi di atas meja.
Dji'ih spontan tertawa terpingkal-pingkal sambil menjauhkan badannya.
"Hahaha! Becanda, goblok! Kagak bakal gue ngejual temen sendiri demi duit kompeni!"
Namun, di balik tawa lebar Dji'ih yang menggema, mereka bertiga mengetahui sebuah kebenaran yang pahit.
Lima juta kredit adalah angka yang mampu meruntuhkan moralitas siapa saja di Kota Bawah.
Di tempat yang terkutuk ini, orang-orang bahkan rela menjual organ tubuh organik mereka sendiri hanya demi menyambung makan esok hari.
Apalagi jika taruhannya adalah menyerahkan identitas seorang "Hantu" yang baru mereka kenal selama beberapa hari.
Sementara itu, di pusat sektor Marunda Bawah.
Suasana jalanan yang biasanya bising oleh transaksi pasar gelap mendadak sunyi senyap.
Sepuluh unit kendaraan taktis lapis baja berwarna hitam pekat milik VOC Corp berhenti serentak, membelah genangan air rob yang kotor.
PSSHHH...
Pintu-pintu baja hidrolik terbuka secara bersamaan, mengeluarkan uap putih dingin.
Puluhan pasukan keamanan dengan baju zirah polimer lengkap dan senapan laser laras panjang turun satu per satu, langsung mengambil posisi siaga di setiap sudut jalan.
Warga yang berada di luar rumah buru-buru menepi, merapat ke dinding-dinding seng dengan tubuh gemetar penuh ketakutan.
Tak ada satu pun yang berani bersuara.
Lalu...
BRAK!
Sebuah sepatu boot yang dilapisi pelat logam berat menapak tegas di atas permukaan tanah becek Marunda, memercikkan air lumpur kehijauan.
Komandan Schout Hinne melangkah keluar dari kendaraan komando utamanya.
Tubuhnya tinggi tegap, dibalut mantel hitam panjang yang berkibar pelan tertiup angin malam.
Sepasang mata berwarna biru pucat berpendar samar di balik keremangan kabut polusi, sementara bagian wajah mekanisnya mendesing pelan, melakukan pemindaian optik konstan terhadap sisa-sisa energi plasma di sekitar lokasi.
Setiap langkah kakinya menimbulkan bunyi dentang logam yang dingin dan berirama konstan.
MENDERING.
MENDERING.
MENDERING.
Seorang anak kecil yang tengah duduk di emperan bedeng langsung menangis ketakutan begitu melihat sosoknya yang menyerupai malaikat pencabut nyawa siber.
Sang ibu dengan wajah pias buru-buru membekap mulut anaknya, menarik tubuh bocah itu masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Hinne berdiri diam di tengah persimpangan gang, memandangi jajaran rumah reyot, kabel-kabel optik yang semrawut, dan raut wajah warga miskin yang penuh penderitaan.
Sensor sibernetiknya merekam semua ketimpangan itu tanpa emosi.
Seorang sersan bawahan mendekat, lalu memberi hormat taktis.
"Komandan, perimeter luar telah diblokade penuh. Sektor ini dinyatakan aman."
Hinne tetap bergeming.
Matanya mengunci bayangan kegelapan di ujung gang sempit Marunda.
"Tidak."
"Komandan?"
"Hantu itu..."
Hinne menjeda kalimatnya, desis modulator suara di leher besinya terdengar begitu mengintimidasi.
"...ada di sekitar sini."
Di tempat lain, di dalam sebuah ruangan ber-AC yang mewah namun remang-remang di kawasan perbatasan sektor Kota Tengah.
Seorang pria bertubuh tambun duduk bersandar di sofa kulit sintetis impor, menikmati segelas alkohol siber mahal.
Jemarinya yang gemuk dipenuhi deretan cincin digital yang terus berkedip menampilkan grafik saham pasar gelap.
Wajahnya licin berminyak bagai belut yang dilapisi pelumas mesin.
Dia adalah Demang Somad, pejabat lokal bentukan korporat untuk mengontrol wilayah Kota Bawah.
Atau dalam bahasa kasarnya warga Marunda: kecoak peliharaan VOC Corp.
Di atas meja kaca di depannya, sebuah proyektor hologram kecil memancarkan lambang tiga mahkota VOC Corp yang berputar dinamis.
Suara robotik berfrekuensi berat terdengar dari alat itu.
"Informasi valid sekecil apa pun yang mengarah pada penangkapan Pitung akan dihargai sangat tinggi oleh arahan dewan, Demang Somad."
Somad menyunggingkan senyuman rakus, menampakkan deretan gigi buatannya yang berlapis emas putih.
"Tenang aja... lu semua boleh pegang omongan gue," ujarnya sambil menyesap minumannya hingga tandas.
Pria tambun itu bangkit berdiri, melangkah mendekati jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah hamparan gang-gang kumuh nan gelap di bawah sana.
Seringai licik mengembang sempurna di wajahnya.
"Orang miskin kayak si Rajab itu kagak bakal mungkin bisa sembunyi selamanya dari endusan duit," bisik Somad penuh kelicikan.
"Cepat atau lambat... di Kota Bawah ini, semua orang pasti punya harga yang bisa dibeli."
```bersambung...BAB 4
Komentar
Posting Komentar