Pitung Cyberpunk The Series BAB 2

Pitung Cyberpunk The Series BAB 2

Pitung Cyberpunk: Kala Legenda Betawi Melawan VOC di Marunda Bawah

BAB 2 bengkel diujung rawa

Lanjutan...BAB 1

Pagi di Kota Bawah selalu dimulai dengan tiga hal: bau yang menusuk hidung, suara tetangga berantem berebut jatah air bersih, dan iklan hologram korporat yang tersendat akibat kesalahan sistem .

“HIDUP LEBIH SEHAT DENGAN VO,  VO,  VO, VO, ”

BZTTT!

Proyektor hologram tua yang digantung di atas gang sempit Marunda Bawah itu tiba-tiba korsleting. Muka model iklan VOC Corp yang mulus steril langsung terbelah dua, digantikan oleh tayangan bajakan beresolusi rendah yang menampilkan wajah penyanyi dangdut jadul lengkap dengan goyangannya.

Melihat pemandangan itu, warga sekitar yang sedang melintas spontan bertepuk tangan riuh.

"Nah, begitu kek! Segeran dikit mata gue!"
"Daripada nonton muka orang-orang VOC mulu, bikin mual!"

Tepat di ujung kawasan Rawa Belong Bawah, berdiri sebuah bangunan sempit berbahan seng dan tripleks tebal. Bentuknya lebih mirip warung tambal ban yang baru saja dihantam musibah daripada sebuah fasilitas teknologi. Papan namanya tergantung miring, lampunya berkedip-kedip nafas, dan jalinan kabel berseliweran di langit-langit optiknya layaknya mi goreng tumpah.

Tulisan cat semprot di bagian depan bangunan itu sudah hampir luntur akibat terkena hujan asam selama bertahun-tahun:

BENGKEL IMPLAN DAN SERVIS CYBERWARE
“RAWA TECH”
MURAH • AMAN • KAGAK NIPU

Meskipun untuk poin "kagak nipu", sebagian besar warga sekitar masih sering melakukan penilaiannya secara terbuka.

Di dalam bengkel yang pengap, Rajab sedang telentang di lantai beton yang dingin, pendapat di bawah kolong sebuah motor hoverbike tua sambil memegang obeng laser. Fokus matanya tajam, sementara jemarinya hitam legam berlumuran oli sintetis.

Jika ada orang asing yang melihatnya sekarang, tidak akan ada yang percaya bahwa pemuda dekil ini adalah sosok berselubung peci hitam yang semalam baru saja memotong dua unit drone tempur VOC menjadi rongsokan kiloan.

"Bang Rajaaaab!"

Sebuah suara lengkingan bocah memecah deru mesin bengkel dari arah pintu depan. Seorang anak laki-laki berbadan kurus berusia sekitar sepuluh tahun melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Mata kiri bocah itu telah digantikan oleh implan optik murah kelas tiga yang lensa kameranya sesekali berkedip sendiri tanpa kontrol. Namanya Ucup.

Rajab tidak beranjak, masih sibuk mengotak-atik mesin hidrolik di atasnya. "Apaan, Piala?"

"Emak gue bilang, kaki prostetiknya bunyi-bunyi lagi pas dipake jalan."

"Bunyi bagaimana?"

“Kayak kambing keselek kaleng, Bang.”

Rajab menghela nafas, lalu mendorong tubuhnya keluar dari kolong motor menggunakan papan beroda. "Lah, itu mah tidak rusak, Cup. Itu namanya fitur."

Ucup mengerutkan kening, implan optiknya berputar pelan. “Fitur apaan?”

"Biar kagak dicuri orang pas emak lu lagi tidur," jawab Rajab asal, wajahnya lempeng.

Ucup sempat bengong selama beberapa detik, mencoba mencerna logika tersebut, sebelum akhirnya Rajab mendengus geli dan mengacak-acak rambut bocah itu.

"Mana emak lu?"

"Di rumah, lagi numbuk beras tiruan."

"Yaudah, entar sore gue mampir ke rumah lu buat cek," kata Rajab sambil bangkit berdiri, menyambar lembaran kain hitam kumal untuk mengelap sisa oli di tangan, kain yang sebenarnya sudah tidak layak lagi disebut sebagai lap.

Namun, Rajab belum sempat melangkah ke meja kerja,

REM!

Pintu depan jembatan seng bengkel didorong kasar hingga membentur dinding. Seorang pria berbadan gempal masuk dengan wajah panik, kedua tangannya membawa sebuah kipas pendingin CPU berukuran raksasa yang tampak janggal.

Dia adalah Dji'ih, sahabat karib Rajab sekaligus manusia dengan volume suara paling berisik di seantero Kota Bawah.

"TUSUKAN!"

"Apaan? Kagak usah teriak-teriak napa," sahut Rajab, reflek menurunkan tangannya ke dekat laci meja, bersiap menarik pistol kecil miliknya. “VOC Pasukan?”

"Bukan!"

"Terus?"

"Gue abis ketipu beli kipas second di pasar loak loh!" seru Dji'ih dengan nada kecewa yang luar biasa.

Rajab menghentikan gerakannya, menatap sahabatnya dengan datar.

Dji'ih menghempaskan kipas logam besar itu ke atas meja kerja hingga menimbulkan dentang keras. "Kata abang yang jual, ini komponen ori copotan dari server militer Jepang, Jab!"

Rajab mendekat, membuka mata untuk memeriksa nomor seri dan rakitan kompartemen di bagian bawah kipas tersebut. "Mata lu peyang. Ini mah kipas pembuangan bekas rice cooker jadul."

"HAH?! Serius lu?!" Dji'ih melongo.

“Lu diboongin mentah-mentah,” ujar Rajab ringkas.

Dji'ih langsung memukul jidatnya sendiri dengan gusar. "Sialan! Pantesan pas gue tadi tes colok ke aki, dayanya muter sih muter...tapi embusan anginnya bau nasi uduk!"

Tawa Rajab langsung meledak mendengarnya. Ucup yang berdiri di sudut ikut ruangan-ikutan ngakak keras, meskipun bocah itu sama sekali tidak paham letak lucunya di mana.

Dji'ih menyandarkan tubuh gempalnya ke tepian meja sambil terus bersungut-sungut. "Gila emang manusia zaman sekarang, kagak ada akhlaknya acan. Rice cooker dibilang komponen siber militer."

"Ya lu juga kagak pake otak pas belinya. Mana ada kipas CPU bentuknya segede teko," jawab Rajab, sisa tawa masih membekas di wajahnya saat dia melangkah masuk ke ruangan belakang bengkel.

Ruangan pribadi itu sangat sempit dan pengap, namun terasa jauh lebih hangat. Di sana berjejer rak-rak besi yang penuh dengan onderdil bekas, jalinan kabel tembaga, ratusan chip memori yang sudah hangus, serta sebuah tabung radio tua yang masih berfungsi.

Dan tepat di pojok meja kerja pribadinya... ada sebuah foto fisik dalam bingkai kayu yang sudah usang.

Itu adalah foto keluarga lama yang diambil belasan tahun lalu. Tampak Rajab kecil yang masih memiliki kedua mata organik, berdiri diapit oleh emak dan bapaknya. Pada saat itu, Megacity Batavia belum sepenuhnya runtuh ke dalam distopia. Belum ada VOC Corp yang mencaplok sebagian kota dan memberlakukan privatisasi udara. Belum ada tubuh-tubuh manusia yang harus dipotong dan diganti dengan besi dingin.

Rajab berdiri diam, memandangi guratan wajah bapaknya dalam foto tersebut. Sorot matanya melembut, menyiratkan kerinduan sekaligus rasa sedih yang mendalam.

Dji'ih melangkah masuk ke ruangan belakang sambil membawa dua kaleng minuman nutrisi murah. “Nih, buat lu,” sambil menyodorkan satu kaleng ke katanya arah Rajab.

Rajab memotret tanpa mengalihkan pandangan dari bingkai foto.

“Lu kalau lagi senggang begini, pasti kerjanya ngeliatin foto almarhum sayang mulu,” ujar Dji'ih pelan, lalu ikut mendudukkan diri di atas kursi plastik yang berdecit.

Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi selama beberapa saat. Dari luar jendela seng, sayup-sayup masih terdengar gangguan khas Kota Bawah, deru mesin kendaraan hover yang berkarat dan teriakan para calo barang curian.

"Kadang... gue hampir lupa gimana rupa asli muka babe gue kalau kagak liat foto ini," tutur Rajab lirih.

Dji'ih menatap sahabatnya, nadanya melembut. "Sayang lu orang baik, Jab. Semua orang di Rawa Belong tahu itu."

Rajab tersenyum kecil, senyuman yang terasa getir.

"Makanya orang baik di Kota Bawah umurnya kagak ada yang panjang. Langsung 'dibersihin' sama korporat."

"Jab, jangan bicara gitu..."

"Gue cuman ngomongin realita, Dji," potong Rajab pelan. Dia membuka kaleng minumannya hingga terdengar suara desis gas siber yang tajam. PSSST. Rajab menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit penuh jelaga. "Kadang gue mikir... kalau sayang masih ada di sini sekarang, mungkin dia bakal marah besar tahu anak laki-lakinya nekat jadi Pitung dan nyari ribut sama VOC tiap malam."

Dji'ih spontan memutar lebar, mengguncangkan kepalanya mantap. "Mustahil banget!"

"Apa?"

"Soalnya kalau sayang lu tahu lu bisa motong drone Vanguard VOC cuma pake sebilah golok plasma..." Dji'ih tertawa lepas, "...dia pasti bakal pamer ke seluruh RT dan bangga setengah mampus punya anak kayak lu!"

Rajab tertawa ikut kecil, ketegangan di bahunya perlahan melonggar mendengar kelakar sahabatnya itu.

Namun, tawa mereka tidak bertahan lama.

BZZZT!

Lampu neon di dalam bengkel mendadak padam total. Sedetik kemudian, sistem cadangan menyala otomatis, memancarkan cahaya merah redup. Tiga layar monitor komputer bekas di dinding ruangan belakang tiba-tiba berkedip-kedip brutal, menampilkan enkripsi kode yang bergerak cepat sebelum akhirnya menampilkan wajah Raisah secara paksa.

Gadis Netrunner itu tampak berada di ruangan gelap dengan rambut pendeknya yang acak-acak. Lensa siber berwarna biru safir di mata kirinya berputar dinamis, memancarkan cahaya digital yang menenangkan. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dari biasanya.

“Pitung,” panggil Raisah, terdengar berat dan serius melalui pelantang suara.

Rajab langsung menegakkan posisi duduknya, tawa di wajahnya lenyap seketika. "Ada apa, Rai?"

Raisah tidak langsung menjawab. Dia merenung selama tiga detik penuh, menghela napas panjang, sebuah isyarat yang langsung membuat cuaca Rajab memburuk. Jika seorang peretas sedingin Raisah sampai kehilangan kata-kata, artinya masalah yang mereka hadapi kali ini berada di tingkat yang berbeda.

“Semalem… setelah gue berhasil narik data kredit untuk warga Marunda, gue mutusin buat ngegali lebih dalam ke server lapis kedua VOC Corp,” tutur Raisah pelan.

Dji'ih ikut menongolkan kepalanya ke depan layar. "Kenapa? Lu nemu brankas kredit rahasia lagi?"

“Bukan duit,” potong Raisah tajam.

“Data korupsi anggaran dewan arah?” tebak Dji'ih lagi.

"Jauh lebih mengerikan dari itu." Raisah menatap lurus ke arah lensa kamera, mengunci Rajab.

Rajab berdiri dari kursinya, melangkah mendekati monitor. "Ngomong-ngomong, yang jelas, Rai. Ada apa?"

Raisah menarik napas panjang. Di latar belakang layarnya, terlihat ribuan baris kode biner berkode merah berkelebat tanpa henti. "Awalnya gue cuma mau nyari log aktivitas transfer keuangan mingguan mereka. Tapi, gue malah gak sengaja nembus satu folder terenkripsi yang punya tanda keamanan absolut."

Perasaan tidak enak di dada Rajab kian pekat. "Folder apa?"

Raisah menengok ke kiri dan ke kanan refleks di dalam markas persembunyiannya, seolah-olah ada agen VOC yang sedang mengintai dari balik bayangan dinding. Dia mendekatkan wajahnya ke kamera, lalu berbisik dengan nada yang mampu membuat pembaca darah membeku.

"PROYEK: EDEN."

Ruangan belakang bengkel Rawa Tech mendadak senyap, hanya menyisakan desis uap hidrolik dari luar bangunan.

Dji'ih menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencairkan suasana. "Nama proyeknya puitis amat, kayak nama taman bunga. Memangnya isi foldernya apaan, Rai?"

Raisah menatap Rajab. Kali ini, iris sibernetik birunya tampak bergetar hebat karena rasa takut yang nyata. "Isinya... adalah data daftar hitam penghilangan populasi warga Kota Bawah secara sistematis."

Rajab membeku di tempatnya berdiri. "...Apa yang kamu katakan?"

"Mereka mencatat semuanya, Jab. Dan ini bukan cuma soal puluhan atau ratusan orang yang hilang di gang gelap," suara Raisah mulai gemetar. "Ini soal ribuan nyawa."

Hening mutlak kembali menyergap. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah putaran baling-baling kipas bekas rice cooker milik Dji'ih yang berputar pincang di sudut meja.

Dji'ih memaksakan tawa tegang, wajah gempalnya mulai dibanjiri keringat dingin. "Halah...paling itu hanya data eksperimen medis ilegal VOC kayak yang udah-udah. ​​Lu jangan nakut-takutn kita napa, Rai."

"KAGAK ADA EKSPERIMEN YANG MEMASUKKAN NAMA ANAK-ANAK DI BAWAH UMUR SEBAGAI TARGET ELIMINASI, DJI'IH!" bentak Raisah dengan emosi yang meledak, matanya berkaca-kaca menahan amarah.

Dji'ih langsung terbungkam, tiba-tiba dia pias.

Rajab menatap layar monitor tanpa berkedip sedikit pun. Rahangnya mengatup rapat, dan perlahan, sepasang matanya berubah sedingin es. "Rai, kamu yakin seratus persen kalau data itu bukan umpan palsu dari Schout Hinne?"

Raisah mengangguk lemah, jemarinya bergerak di atas papan tik virtualnya. "Dan ada satu bagian yang paling parah, Jab. Folder ini punya timeline eksekusi."

"Maksud lu?"

Raisah mengetuk satu tombol enskripsi. Layar monitor Rajab seketika berganti menampilkan visual peta tiga dimensi Megacity Batavia dalam ukuran besar. Kawasan Kota Atas tampak bersinar biru tenang, sementara kawasan Kota Bawah di bawahnya tiba-tiba berkedip-kedip dengan warna merah darah yang mengerikan.

Satu demi satu, titik merah itu menutup sektor pemukiman padat. Marunda Bawah. Rawa Milik Bawah. Saudara Tanah Merah. Kampung Melayu Bawah.

Seluruh wilayah perumahan rakyat miskin terblokir oleh warna merah. Di bagian bawah peta hologram tersebut, sebuah baris kalimat perintah berkedip dengan hitungan mundur digital yang kejam:

[PHASE 1 ,  CLEARANCE PROGRAM]
[TARGET: LOWER CITY POPULATION RESET]
[TIME REMAINING: 14 DAYS, 00 HOURS, 00 MINUTES]

Dji'ih melangkah mundur hingga menabrak rak besi, wajahnya pasi bak mayat. "Reset... Mereka mau me-reset kita?"
Bisiknya dengan suara bergetar.

Rajab membaca tulisan baris itu kata demi kata dengan sangat pelan, memastikan setiap hurufnya terpatri di dalam kepalanya. Tatapan matanya tajam, memancarkan aura membunuh yang pekat.

"VOC mau ngapain sebenarnya, Rai?" Bisik Rajab, nadanya begitu rendah hingga terasa mengancam.

Raisah menatap Rajab dengan pandangan putus asa, air mata perlahan luruh. "Mereka...mereka ingin melaporkan seluruh isi Kota Bawah dalam empat hari belas, Jab. Total tanpa sisa."

bersambung...BAB 3

Komentar

Bingung Mau Baca yang Mana?

Biarkan takdir yang memilih! Klik tombol di bawah untuk membuka satu cerita acak secara mengejutkan dari koleksi 'Tulisanku'.