Desa Ini Menyeduh Kenangan… dan Aku Tak Pernah Sama Lagi
Desa Ini Menyeduh Kenangan… dan Aku Tak Pernah Sama Lagi
Di sebuah desa yang kecil dan tenang, angin bertiup lembut dan aroma tumbuhan tercium di mana-mana. Pepohonan hijau rindang menghiasi sepanjang jalan desa, daunnya berterbangan dan berserakan di jalanan. Sinar matahari yang tidak terlalu terik pun mendukung suasana tenangnya.
Di sudut desa terdapat sebuah kebun teh tua yang tidak pernah kering. Di kebun itu tumbuh teh yang disebut Camellia sinensis. Daunnya berwarna hijau tua mengilap serta memiliki aroma samar yang membuatnya tidak terlalu mencolok.
Eosi berjalan ke area perumahan orang tua sambil menatap taman itu dengan perasaan kekeluargaan.
"Ibu! Ayah! Aku pulang," ucap Eosi pada kedua orang tuanya yang sedang duduk di teras rumah.
“Selamat datang, Nak,” ucap ayahnya.
“Mumpung kamu sudah pulang dari kota, bagaimana kalau Ibu buatkan teh?” tawar ibu dengan ramah.
“Tapi, Bu, kan aku tidak pernah mau dibuatkan ataupun minum teh?”
“Sudahlah, kamu tidak mau hanya karena melihat warnanya yang pekat. Kamu juga belum mencobanya.”
“Hmm, baiklah, Bu,” Eosi mengangguk dengan berat hati.
Ibu membuatkan teh Eosi dari daun yang diambil dari kebun teh satu-satunya di desa itu. Aromanya menyengat setelah diseduh dan memenuhi rumah.
Ibu menyuguhkan teh itu di depan Eosi dan meletakkannya di atas meja. “Terima kasih, Bu…” Ibu membalas ucapannya dengan senyuman.
Eosi meminum teh itu perlahan. Saat menelannya, tiba-tiba terasa kepalanya agak pusing dan agak kabur.
“Eh? Kenapa begini?”
Ibu dan ayah hanya menatap dengan senyuman tenang, namun terasa mengerikan pada saat itu.
Sejenak, saat Eosi memegangi kepalanya, rekaman kejadian pahit yang dialaminya diputar kembali di kepalanya. Episode kejadian saat bosnya memecatnya karena ia menabrak sekretaris perusahaan.
Sejenak Eosi tersadar dan menemukan catatan di meja dekat minumannya.
"Setiap pilihan pasti punya konsekuensi. Pilih menetap di desa ini atau kembali ke kotamu hanya untuk membangkitkan kejadian pahit?"
Tulisan tangan itu acak-acakan dan tidak rapi.
Eosi membeku saat membaca catatan itu dalam hati. “K-kalau aku memilih menetap di desa ini… apa yang akan terjadi?”
Sepotong kertas lain muncul di belakangnya.
“Maka, kamu akan menghapus kenangan pahitnya untuk menyembuhkan luka dalam hati dan pikiranmu.”
Kertas itu ditulis dengan tulisan tangan yang sama.
“Jika memilih kembali ke kota?”
"Maka, kamu akan dibuat menderita oleh orang di sekitarmu. Dan bukankah kebahagiaan yang dibangun dari penderitaan orang itu tidak adil?"
Kertas itu menambahkan gambar yang mirip dengan kebun teh di desa.
Eosi keputusan kepala dan menganggap semua ini hanya khayalan. Ia melihat memutuskan keluar jendela untuk menjernihkan pikiran.
Namun, ia merasa ada yang aneh dengan warga desa. Sikap mereka tampak sama, dingin, tenang, dan tidak banyak bicara. Mereka berjalan dengan acuh tak acuh. Terlebih lagi, tidak pernah terlihat keluar desa untuk membeli bahan pangan, meskipun persediaannya sudah menipis.
Saat Eosi mengamati, seorang pemuda berbaju luluh datang.
“Izin, bisakah aku, keluargaku, dan teman-temanku mendapatkan bubuk teh hijau?”
"Hmm, bubuk teh hijau? Aku rasa sudah habis persediaannya. Ibu dan ayahku juga tidak ada di sini. Tapi kenapa begitu banyak yang menangis?" tanya Eosi.
Tiba-tiba, ibu dan ayahnya sudah berdiri di belakangnya.
“Kamu masih belum tahu, ya?” tanya ibunya dengan senyuman yang agak menakutkan.
“Tahu apa?”
“Bahwa sebenarnya desa ini adalah tempat untuk orang melarikan diri dari masalah dan kenangan pahit,” jawab ayah pelan.
Eosi menjadi gugup. "Tidakkah lari dari masalah dengan melupakannya itu percuma? Masalahnya tetap ada, bahkan bisa lebih buruk."
“Kamu mungkin sekarang mengelak… tapi kamu sendiri sudah lari dari masalah itu,” gumam ibu.
Eosi bingung. Ia teringat kembali, sejak kecil ia tidak pernah minum teh hijau, sehingga bisa pergi ke kota tanpa beban. Namun sekarang, dia sudah meminumnya. Itu saja sudah menghilangkan sebagian kenangan pahitnya.
Pemuda itu masih berdiri. Eosi merawat.
“Oh ya, kenapa kamu ingin bubuk teh dari keluargaku?”
“Bukankah keluarga kalian yang memiliki kebun teh tua di desa ini?”
Ayah dan ibunya hanya diam.
Eosi berpikir, “Ibu tadi memaksaku minum teh agar aku tidak pergi dan melupakan kenangan pahitku… dan ternyata bubuk teh itu berasal dari kebun milik keluargaku.”
“Ayah, Ibu, kenapa kebun ini tidak pernah kering?” tanya Eosi.
“Karena selalu disiram tepat waktu dengan rahasia udara.”
“Rahasia?”
Ibu mengangguk. “Kamu tidak perlu tahu.”
Malam pun tiba. Karena penasaran, Eosi kembali meminum teh itu.
Setiap tegukan memutar kenangan pahitnya, lalu menghilangkannya entah ke mana.
Setelah itu, ia merasa lega dan tenang, seolah-olah hanya meminum minuman biasa.
Ayah dan ibunya mengamati dari dapur.
“Bukan niat kita menyelamatkannya, tapi ini cara kita menyelamatkannya,” kata ayahnya.
Hari-hari berjalan lambat. Eosi terlihat biasa saja, bahkan kini sangat menyukai teh itu.
Suatu sakit, ia duduk di teras. Ibunya mendekat.
“Eosi, maafkan Ibu dan Ayah ya?”
“Maaf kenapa, Bu?”
“Karena kami punya cara sendiri untuk menjagamu… kami ingin kenangan pahitmu hilang.”
Tiba-tiba, kenangan kembali berputar di kepalanya.
“Jadi selama ini…?”
Ibunya mengangguk lalu masuk ke rumah.
Eosi menatap kebun teh. Ia melihat ayahnya menyiram tanaman dengan udara berwarna aneh, keruh dan tidak jernih.
“Selamat tinggal, kenangan pahit…” gumam ayahnya.
Eosi terkejut. “Air itu… kenangan pahit orang-orang?”
Keesokan harinya, saat orang tuanya pergi, Eosi memanfaatkan kesempatan untuk menyelidiki kebun itu.
Ia membawa alat dan memeriksa tanaman tersebut.
Ternyata memang Camellia sinensis, namun dengan gen yang berbeda, hasil percobaan dari bukan tanaman biasa.
“Ini buruk…sangat buruk,” gumamnya.
Eosi akhirnya memutuskan pergi. Ia meninggalkan catatan:
"Ayah, Ibu... aku benar-benar minta maaf. Ini pilihanku. Jika aku mengalami kejadian pahit lagi, itu akan menjadi manis jika kujadikan pelajaran hidup. Terima kasih, Ayah dan Ibu."
Eosi pergi dengan perasaan berat. Ia sadar, selama ini ia merasa melawan kenangan pahit… tanpa sadar, ia sendiri adalah bagian dari kenangan pahit itu.

Kelas nad
BalasHapuskelas 5... :D
Hapus