The KaSiNa Circle: Sebuah Cerita Tentang Kepercayaan dan Persahabatan Sejati

The KaSiNa Circle: Sebuah Cerita Tentang Kepercayaan dan Persahabatan Sejati

Langit pagi itu berwarna biru pucat, seperti belum sepenuhnya bangun dari tidur panjangnya. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman sekolah yang mulai ramai oleh suara tawa dan langkah kaki anak-anak. Namun, di antara semua keramaian itu, ada satu sudut kecil yang terasa lebih hidup dari yang lain, bangku kayu di dekat pohon ketapang. Dan di situlah semuanya bermula.

Sebuah Cerita Tentang Kepercayaan dan Persahabatan Sejati

“Eh, kamu ngerjain PR matematika nggak?” suara Khaira terdengar riang, hampir seperti lonceng kecil yang berdenting.

Nadine yang sedang duduk sambil menatap buku catatannya hanya mengangkat bahu. “Setengah. Sisanya… ya nanti aja.”

Khaira tertawa, lalu duduk di sampingnya tanpa ragu. “Kamu ini ya. Kalau bukan aku yang ingetin, pasti lupa terus.”

Nadine menoleh, lalu tersenyum tipis. Ia bukan tipe yang banyak bicara, apalagi di tengah keramaian. Tapi bersama Khaira, semuanya terasa lebih mudah. Persahabatan mereka sudah dimulai sejak lama, bahkan sebelum mereka sadar bahwa kebersamaan itu akan menjadi sesuatu yang berarti. Hari-hari mereka sederhana, belajar bersama, bercanda, saling mengejek dengan cara yang aneh tapi menyenangkan. Khaira selalu menjadi pusat energi, sementara Nadine menjadi penyeimbang yang diam-diam memperhatikan semuanya.

Hingga suatu hari, seseorang masuk ke dalam lingkar kecil mereka. Namanya Sisi. Awalnya, pertemuan itu terasa biasa saja. Sisi adalah anak yang cukup mudah bergaul, tapi tidak terlalu mencolok. Ia bisa berbicara dengan siapa saja, tapi juga nyaman saat sendiri. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Khaira dan Nadine merasa… cocok.

Semua bermula dari tugas kelompok. “Kita satu kelompok ya?” tanya Sisi dengan senyum hangat.

Khaira langsung mengangguk cepat. “Boleh banget! Makin rame makin seru.” Nadine hanya mengangguk pelan, tapi dalam hatinya ia merasa tidak keberatan dan setuju dengan usulan itu. Sejak saat itu, mereka mulai sering bersama. Berangkat ke kantin bersama. Pulang sekolah bersama. Bahkan, sekadar duduk di bangku di dekat lapangan sambil bercerita hal-hal yang sebenarnya tidak penting, tapi terasa sangat berarti.

“Kadang aku ngerasa… hari itu nggak lengkap kalau kita nggak ngobrol,” kata Sisi suatu sore.

Khaira langsung menepuk meja. “Nah! Itu dia! Aku juga ngerasa gitu!” Nadine tersenyum kecil. Ia tidak banyak bicara, tapi dalam hati ia setuju. Hari demi hari berlalu, dan tanpa disadari, mereka bertiga menjadi satu kesatuan. Sampai akhirnya, ide itu muncul.

“Kita bikin trio, yuk!” ujar Khaira penuh semangat.

“Trio?” Sisi mengangkat alis.

“Iya! Kayak… kelompok kita sendiri. Bukan sekadar teman biasa,” jelas Khaira.

Nadine menatap mereka berdua, lalu berkata pelan, “Kalau begitu nama trionya apa?”

Khaira langsung berpikir keras. “Hmm… gimana kalau… Trio cewek cantik?”

Nadine dan Sisi memiringkan kepala. “Enggak ngerasa agak aneh kalo nama trionya itu?” Ucap Nadine sambil tersenyum.

“Hmm…iya juga ya. Kalau gitu saran dong dari kalian juga.” Kata Khaira sambil ikut berpikir.

“Aduh, udah bingung dibikin makin bingung lagi deh,” Gumam Sisi yang membuat Khaira dan Nadine menjadi tertawa.

“Oh iya!, gini aja. Gimana kalau nama trio kita itu Trio Cegil?”

Sisi tertawa kecil. “Kenapa harus ‘cegil’?”

“Karena kita… memang cewek gila kan!” jawab Khaira sambil tertawa.

Nadine ikut tersenyum. “Oke oke aku setuju… walau aneh, tapi… cocok.”

Dan begitulah, Trio Cegil lahir. Mereka semakin dekat. Rahasia kecil mulai dibagikan. Candaan semakin dalam. Dan kepercayaan mulai tumbuh tanpa mereka sadari. Saat pelajaran pak guru menuliskan satu soal pelajaran bahasa Indonesia di papan tulis, “Siapa yang bisa menjawab soal di papan tulis ini?”

Khaira, Nadine, dan Sisi tanpa mereka rencanakan, mereka mengangkat tangan. Ya, hanya mereka bertiga yang mengangkat tangan. “Hanya kalian bertiga yang mengangkat tangan? Baiklah, katakan jawabannya.” Kata pak guru.

Khaira, Nadine dan Sisi serempak menjawab jawaban yang sama. Mereka terkejut saat ternyata mereka telah satu pikiran dalam menjawab soal itu. “Ya, jawaban kalian benar. Tepuk tangan, karena ini adalah tes soal awal masuk bab pelajaran baru.” Seluruh siswa tepuk tangan dan trio itu merasa chemistry mereka terasa semakin dekat, bahkan juga bisa hanya melalui dari pelajaran di sekolah.

Namun, tidak semua cerita berjalan mulus. Suatu siang saat jam istirahat, seseorang datang menghampiri mereka. Namanya Lixy. Ia berdiri di depan mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Aku boleh ikut gabung circle sama kalian?”

Ketiganya saling berpandangan. Khaira mencoba tersenyum. “Gabung… bagaimana maksudnya?”

“Ya, jadi bagian dari kalian. Aku lihat kalian selalu bareng. Kayaknya seru,” jawab Lixy singkat.

Sisi mengerutkan kening sedikit. Ada sesuatu yang terasa janggal, tapi ia tidak langsung menolak. Nadine hanya diam, memperhatikan. Mereka tahu, Lixy bukan tipe yang mudah akrab. Ia dikenal suka berbicara kasar dan sering membuat orang lain tidak nyaman. Tapi di sisi lain, mereka juga tahu bahwa teman dekat Lixy jarang masuk sekolah akhir-akhir ini.

“Gimana?” tanya Khaira pelan pada dua temannya setelah Lixy pergi.

“Jujur aja sih… aku agak ragu,” kata Sisi.

Nadine mengangguk. “Iya benar aku juga ngerasa gitu.”

Mereka tidak ingin menolak secara langsung, tapi juga tidak ingin terburu-buru menerima. Akhirnya, mereka membuat keputusan.

“Gimana kalau kita tes dulu aja,” usul Khaira.

“Tes?” Sisi menatapnya.

“Iya. Kita habiskan waktu sama dia seharian. Lihat gimana sikapnya.” Nadine menambahkan, “Dan… kita kasih satu rahasia.”

Sisi langsung mengerti maksudnya. “Untuk lihat apakah dia bisa dipercaya atau nggak.”

Keesokan harinya, mereka mengajak Lixy bersama. Hari itu terasa panjang. Awalnya, semuanya berjalan cukup baik. Lixy berusaha bersikap ramah, meskipun sesekali masih terdengar nada kasar dalam ucapannya. Mereka pergi ke kantin bersama, mengerjakan tugas, bahkan bercanda. Di tengah hari, Khaira berkata, “Kita punya rahasia. Tapi ini cuma boleh kita berempat yang tahu.”

Lixy terlihat tertarik. “Rahasia apa?”

“Tapi janji dulu ya, kalau tidak ada yang boleh tahu rahasia ini selain kita berempat.”

Nadine, Sisi, dan Lixy berseru kecil, “Oke!”

Lalu Khaira mulai menceritakan rahasia. Itu bukan rahasia besar. Bahkan, sebenarnya hanya cerita biasa yang mereka buat-buat. Tapi mereka menyampaikannya dengan serius.

“Jangan sampai ada yang tahu, ya,” kata Nadine pelan.

Lixy mengangguk cepat. “Tenang aja. Aku nggak bakal cerita ke siapa-siapa.”

Hari itu berakhir tanpa kejadian mencurigakan. Namun, mereka tidak langsung percaya. Karena mereka punya rencana lain. Mereka memiliki seseorang yang membantu mengamati Lixy dari jauh, seorang “mata-mata” kecil yang tanpa sengaja menjadi bagian dari rencana mereka. Dan hasilnya… tidak seperti yang mereka harapkan.

“Kalian tahu nggak?” kata si mata-mata keesokan harinya. “Kemarin Lixy cerita ke beberapa anak tentang rahasia yang kemarin kalian bicarakan berempat itu. Juga sih ya teman dekat Lixy itu masuk sekolah, makanya dia itu jadi agak terasa ngejauh dari kalian.”

Ketiganya terdiam. Khaira mengepalkan tangannya. “Serius?”

“Iya. Aku dengar sendiri.”

Sisi menghela napas panjang. “Berarti… dia nggak bisa dipercaya.” Nadine menunduk, lalu berkata pelan, “Baiklah berarti kita sudah tahu jawabannya.”

Hari itu terasa berbeda. Mereka bertiga duduk bersama seperti biasa, tapi ada keseriusan dalam suasana. Ketika Lixy sedang berjalan di lorong sekolah dengan teman dekatnya, Lixy menyadari ada Nadine, Khaira dan Sisi akhirnya ia berbisik kepada teman dekatnya lalu menghampir mereka bertiga.

Saat Lixy datang, Khaira berdiri. “Lixy kita mau ngomong sesuatu,” katanya.

Lixy terlihat sedikit bingung. “Apa?”

Sisi melanjutkan dengan tenang, “Tentang kamu yang mau gabung ke trio kita.”

Nadine menatap Lixy, lalu berkata, “Kami sudah memikirkan semuanya.”

Khaira menarik napas dalam-dalam. “Dan… kami memutuskan bahwa kamu nggak bisa gabung.”

Lixy terlihat terkejut. “Kenapa?”

Mereka saling berpandangan sejenak. Sisi menjawab, “Alasannya… kami simpan.”

Nadine menambahkan pelan, “Tapi ini keputusan kami bersama.”

Lixy terdiam. Wajahnya berubah, tapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya pergi tanpa menoleh. Setelah itu, suasana terasa hening.

“Sedih juga ya kayaknya,” kata Khaira pelan.

Sisi mengangguk. “Tapi ini yang terbaik daripada pertemanan kita juga rusak dan malah dibenci sama teman-teman yang lain kan?” Nadine tersenyum kecil. “Iya, juga setidaknya kita belajar sesuatu.”

“Belajar apa?” tanya Khaira.

“Kalau kepercayaan itu… nggak bisa diberikan begitu saja.” Mereka bertiga saling menatap, lalu tersenyum. Hari itu, mereka memutuskan sesuatu yang baru.

“Trio Cegil itu menurutku…jadi nama lama,” kata Nadine pelan dan tiba-tiba.

Sisi mengangkat alis. “Maksudnya?”

“Kita ganti nama, yuk.” Nadine tersenyum. “Jadi The KaSiNa Circle!”

Khaira berpikir sejenak, lalu berkata, “KaSiNa… bagus juga”

Sisi tersenyum lebar. “Wah namanya bagus sih, tapi kenapa namanya KaSiNa?”

“Ya karena kita Khaira, Sisi, Nadine,” jawab Nadine.

Khaira mengangguk dengan cepat. “Iya, iya aku suka!.”

Dan sejak saat itu, mereka bukan lagi sekadar trio biasa. Mereka adalah The KaSiNa Circle. Lingkaran kecil yang mungkin tidak sempurna, tapi dipenuhi kepercayaan, tawa, dan cerita yang hanya mereka yang mengerti.

Langit sore itu berwarna jingga, seperti lukisan yang perlahan memudar. Di bawah pohon ketapang, tiga sahabat duduk berdampingan. Tidak banyak yang mereka katakan. Karena terkadang, kebersamaan tidak membutuhkan kata-kata. Cukup dengan hadir, dan saling mengerti.

Dan di sanalah, cerita mereka sebagai “The KaSiNa Circle” terus berlanjut.


Baca juga :

Komentar

— Loading —

Yang lagi viral niih...

Kisah Lea: Bangkit dari Keterpurukan dan Mengejar Impian Menjadi Penulis

Dibalik Bulan Merah: Cerita Pendek Fantasi Misteri yang Mencekam