Kumis Misterius di Jam Dinding Museum… Siapa yang Melakukannya?
Kumis Misterius di Jam Dinding Museum… Siapa yang Melakukannya?
Malam selalu datang lebih cepat di museum tua itu, seolah matahari pun enggan berlama-lama menyentuh bangunannya. Dindingnya tebal, jendelanya tinggi, dan lorong-lorongnya memanjang seperti terowongan yang tidak pernah benar-benar berakhir. Tidak ada yang menyukai shift malam di sana. Bukan karena tempat itu rawan pencurian atau terlalu sepi, melainkan karena suasananya terasa… "sadar". Seperti ada sesuatu yang memperhatikan setiap langkah, setiap napas, dan setiap suara kecil yang muncul lalu mati di udara.
Ia sebenarnya bukan penjaga tetap. Ia hanya pegawai kontrak bagian konservasi yang kebagian jadwal malam karena dua rekannya menyetujui pemotongan secara bersamaan. Tugasnya sederhana: memastikan: berkeliling setiap satu jam, suhu ruang penyimpanan stabil, memeriksa pintu dan jendela, serta tidak menyentuh benda apa pun di ruang tertentu tanpa izin tertulis.
Ruang A -18 adalah salah satunya.
Pagi hari sebelum museum dibuka, kepala konservator menemukan. Pria tua itu tidak tersenyum seperti biasanya. Ia hanya menunjuk sebuah daftar inventaris tanpa menatap langsung.
"Kalau melihat jam dinding di ruangan A -18," katanya pelan, "jangan disetel. Jangan dipindahkan. Jangan dibersihkan terlalu detail."
Iani mengangguk, mengira itu hanyalah prosedur untuk benda antik sensitif. Namun, saat ia benar-benar masuk ke ruangan itu, ia memahami mengapa benda tersebut jarang disentuh. Debu tebal menempel pada kaca pelindung jam. Angka-angkanya kuno, dan di bawah angka dua belas ada ornamen aneh berbentuk dua lengkungan hitam seperti kumis kecil.
Lalu, tanpa peringatan, tiba-tiba museum listrik padam. Generator darurat gagal menyala, dan seluruh ruangan tenggelam dalam gelap pekat, kecuali cahaya bulan yang dipastikan melalui jendela tinggi. Dalam cahaya redup itulah Iani melihatnya dengan jelas: kumis pada jam dinding itu… bergerak.
Bukan sekedar ilusi bayangan. Dua melingkar hitam di bawah angka dua belas itu perlahan melintir, seperti seekor hewan kecil yang baru bangun tidur. Detik berikutnya, jarum detik berhenti. Bukan melambat, tapi berhenti total.
Iani menelan ludah. Ia mendekat, meski setiap ruangan di sekitarnya berteriak untuk lari. Ia tahu jam itu termasuk benda yang "tidak mengejek " , jam yang konon tidak pernah menunjukkan waktu yang sama bagi dua orang yang berbeda. Saat itu, jam tersebut tertinggal beberapa detik dari jam tangan Iani.
Karena refleks, ia membuka penutupnya, memutar jarum detik sedikit ke depan, lalu menutupnya kembali. Klik. Tidak ada bunyi yang aneh. Hanya satu hal kecil: detaknya menjadi lebih keras, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidur panjang.
Iani tidak tahu bahwa beberapa benda di museum itu disimpan bukan karena berharga, melainkan karena berbahaya jika dibiarkan mengikuti waktu yang sama dengan dunia luar. Tiba-tiba, bayangan Iani di lantai bergerak sepersekian detik lebih lambat dari tubuhnya. Bayangan itu menunjukkan senyuman tipis yang mengerikan.
Iani mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Dunia di luar jendela tampak berjalan seperti biasa, namun seolah-olah dirinya telah menjadi transparan.
Di dalam museum, lampu darurat akhirnya menyala. Petugas pagi menemukan gedung dalam kondisi normal. Di ruang A -18, jam dinding itu berdetak stabil, dan di bawah angka dua belas, kumisnya tampak sedikit lebih tebal dari sebelumnya.
Tak lama kemudian, Iani masuk untuk bekerja pada shift siang. Ia berjalan ke ruangan A -18 dan berhenti di depan jam itu sambil mengerutkan kening. Sebuah suara berbisik, kali ini dengan nada puas: "Terlambat."
Iani menyadari sesuatu yang mengerikan. Jam hilang tangannya. Sebaliknya, di pergelangan tangan kiri tumbuh bayangan tipis seperti kumis kecil yang menempel pada kulitnya. Ia mencoba mencabutnya, namun rasa sakitnya luar biasa seperti merobek bagian dari keberadaannya sendiri.
Di sekelilingnya, jam-jam mulai bergerak tidak serempak. Satu maju, satu mundur, satu bergetar hebat hingga mengulang. Dari retakan itu, untungnya merembes keluar. Setiap perekaman jam yang tidak sinkron itu membuat ingatan Iani memudar. Nama orang tuanya, wajah sahabatnya, bahkan identitas dirinya sendiri tersedot masuk ke dalam pusaran waktu yang rusak.
"Iani." Suara itu kembali tepat di belakangnya.
Ia berbalik perlahan. Di sana, berdiri sosok yang sama yang bertahan di sana. Namun, sosoknya berdiri terlalu diam, seperti tiruan yang belum sempurna. Dan di bawah wajah sosok itu, terdapat kumis kecil. Sosok itu tersenyum lebih dulu.
"Waktumu sudah habis," bisik suara itu di dalam kepalanya.
Iani mundur, tetapi punggungnya menabrak jam dinding A -18 yang kini berukuran raksasa. Jarumnya berputar sangat cepat hingga angka-angkanya kabur. Kumis di bawah angka dua belas melebar seperti mulut yang terbuka, siap menelan.
Tangan Iani bergerak tanpa kendali, menyentuh kaca jam tersebut. Klik. Semuanya berhenti. Sunyi total. Gelap menelan semuanya.
Keesokan paginya, museum kembali seperti biasa. Pengunjung datang dan lampu menyala terang. Di ruang A -18, jam dinding itu berdetak tenang. Ia masuk ke ruangan itu untuk bertugas. Ia berhenti sejenak, mengerutkan kening.
"Kenapa ya… rasanya familiar?" gumamnya pelan.
Ia merasa pernah melihat jam itu, padahal menurut catatan, ini adalah hari pertamanya di sana. Ia menggeleng kecil lalu kembali keluar. Di lantai, bayangannya mengikuti dengan sempurna. Namun, jika diperhatikan lebih lama, bayangan itu tersenyum sedikit lebih cepat. Dan di bawah "wajah" bayangan itu, tampak dua lengkungan hitam kecil berbentuk kumis.
Detak jam terdengar sekali lagi, lebih dalam, seolah menunggu mangsa berikutnya yang cukup lama untuk menyesuaikan waktu…

Cerita yang unik penuh misteri...
BalasHapus