Aku dan Bayanganku: Cerita Inspiratif Anak SD yang Belajar Percaya Diri
AKU DAN BAYANGANKU
Hiven duduk di bangku
kelas lima SDN Paseban 11. Umurnya sebelas tahun. Tubuhnya kecil dibanding
teman-temannya, rambutnya sering sulit rapi, dan kalau bicara suaranya pelan
sekali sampai kadang orang harus mengulang pertanyaan.
Padahal sebenarnya, ia
hanya terlalu sering takut.
Di kepalanya selalu
ada suara-suara kecil yang membuatnya ragu.
“Nanti kalau salah
gimana?”
“Kalau mereka ketawa?”
“Jawabanmu pasti
aneh.”
Karena itu, Hiven
jarang mengangkat tangan di kelas. Saat tahu jawaban pun, ia memilih diam. Ia
juga tidak terlalu dekat dengan teman-temannya. Bukan karena tidak mau, tapi
karena merasa dirinya tidak menarik untuk diajak bicara.
Kadang sebelum tidur,
Hiven sering menatap langit-langit kamarnya sambil bertanya dalam hati.
“Kenapa aku begini,
ya?”
Tapi tentu saja tidak
ada yang menjawab.
Hari-harinya berjalan
begitu saja. Datang ke sekolah, duduk, mendengarkan pelajaran, lalu pulang.
Hiven merasa dirinya seperti bayangan, tetapi tidak benar-benar diperhatikan.
Suatu siang sepulang
sekolah, Hiven berjalan sendirian di halaman sekolah sambil menendang batu
kecil di jalan.
“Hiven!”
Ia menoleh. Ternyata
Loxy dan Lullacy menghampirinya.
“Pulang bareng, yuk,”
kata Loxy sambil tersenyum. “Kita belum pernah pulang bareng, kan?”
Hiven langsung gugup.
“Eh… lain kali aja,”
jawabnya pelan.
“Kenapa?” tanya
Lullacy.
Hiven mengangkat bahu
kecil.
“Enggak tahu. Aku
cuma… kadang ngerasa beda aja sama yang lain.”
Lullacy memperhatikan
Hiven beberapa detik. Awalnya biasa saja. Namun tiba-tiba ekspresinya berubah.
“Hiven…” katanya
pelan.
“Hm?”
“Kamu sadar enggak?”
“Sadar apa?”
Lullacy menunjuk ke
bawah.
“Bayanganmu enggak
ada.”
Hiven langsung melihat
ke lantai.
Dadanya terasa dingin.
Di bawah terik
matahari siang, memang tidak ada bayangan apa pun di dekat kakinya.
Ia melangkah sekali.
Dua kali.
Tetap tidak ada.
Jantungnya mulai
berdegup cepat.
“Itu… bercanda, kan?”
katanya pelan.
Namun Loxy dan Lullacy
hanya saling menatap bingung.
Sepanjang perjalanan
pulang, Hiven tidak bisa tenang. Ia beberapa kali melihat ke bawah, berharap
bayangannya muncul lagi.
Tetapi tetap kosong.
Saat melewati jalan
kecil yang sepi, Hiven berhenti.
“Apa yang sebenarnya
terjadi…” bisiknya.
Lalu tiba-tiba ia
mendengar suara.
“Akhirnya kamu sadar
juga.”
Hiven langsung menoleh
ke kanan dan kiri.
“Siapa?”
“Aku.”
Suaranya terdengar
aneh. Tidak benar-benar dari luar, tetapi seperti muncul dari dalam pikirannya
sendiri.
“Siapa aku?” tanya
Hiven makin bingung.
Beberapa detik sunyi.
Lalu suara itu
menjawab,
“Aku bayanganmu.”
Hiven menelan ludah.
“Kalau kamu
bayanganku… kenapa kamu hilang?”
“Karena aku capek.”
Jawaban itu terdengar
dingin.
Hiven terdiam.
“Capek karena apa?”
“Karena kamu terus
mengabaikanku.”
“Aku enggak ngerti…”
“Setiap kali kamu
bilang dirimu enggak bisa, kamu membuatku menghilang sedikit demi sedikit.”
Hiven mengepalkan
tangan.
“Aku cuma takut.”
“Takut gagal?”
Hiven mengangguk
pelan.
“Takut ditertawakan.
Takut salah.”
Suara itu terdengar
lebih lembut kali ini.
“Semua orang pernah
salah, Hiven.”
“Tapi mereka
kelihatannya hebat.”
“Itu karena mereka
berani mencoba.”
Kalimat itu membuat
Hiven terdiam lama.
Untuk pertama kalinya,
ia mulai sadar bahwa selama ini yang paling sering menjatuhkan dirinya adalah
pikirannya sendiri.
Keesokan harinya di
kelas, guru memberikan pertanyaan.
“Siapa yang tahu
jawabannya?”
Kelas langsung sunyi.
Hiven sebenarnya tahu
jawabannya.
Ia benar-benar tahu.
Tangannya bergerak
sedikit, lalu turun lagi.
“Jangan angkat
tangan,” bisik rasa takutnya.
“Nanti salah.”
Namun suara lain
muncul.
“Kalau kamu diam
terus, aku benar-benar akan pergi.”
Hiven langsung
teringat bayangannya.
Dadanya terasa sesak.
Ia melihat
teman-temannya satu per satu. Tidak ada yang memperhatikannya.
“Mungkin… aku bisa
coba sekali saja,” pikirnya.
Dengan tangan gemetar,
Hiven perlahan mengangkat tangan.
“Bu…”
Suaranya kecil.
Guru menoleh.
“Iya, Hiven?”
Seketika seluruh kelas
melihat ke arahnya.
Biasanya pada saat
seperti itu Hiven akan langsung menunduk.
Namun kali ini tidak.
Ia berdiri.
Walaupun gugup, ia
tetap menjawab pertanyaan gurunya sampai selesai.
Beberapa detik terasa
sangat lama.
Lalu guru tersenyum.
“Jawabanmu benar.”
Hiven terdiam.
Entah kenapa dadanya
terasa hangat.
Beberapa teman mulai
bertepuk tangan kecil.
Dan anehnya… kali ini
Hiven tidak merasa ingin menghilang.
Pelan-pelan ia melihat
ke lantai.
Sebuah bayangan samar
mulai muncul di dekat kakinya.
Hiven tersenyum kecil.
Hari itu ia mencoba
banyak hal kecil.
Ia ikut berbicara saat
diskusi kelompok.
Ia mengobrol dengan
Loxy dan Lullacy.
Ia bahkan beberapa
kali berani bertanya kepada guru.
Setiap kali ia
mencoba, bayangannya terlihat semakin jelas.
Sore harinya, Hiven
berjalan pulang sambil melihat jalanan yang terkena cahaya matahari.
Di bawah kakinya,
bayangannya sudah kembali utuh.
Mengikuti setiap
langkahnya.
Hiven berhenti
sebentar.
“Kamu balik lagi?”
bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Tetapi kali ini Hiven
mengerti.
Bayangan itu tidak
pernah benar-benar pergi.
Yang hilang hanyalah
keberaniannya untuk percaya pada dirinya sendiri.
Hiven tersenyum kecil
lalu melangkah lagi.
Mungkin ia belum
berubah menjadi anak paling berani.
Tetapi setidaknya
sekarang ia tahu satu hal:
Ia tidak harus terus
hidup dalam ketakutan.
Dan untuk pertama
kalinya, Hiven merasa dirinya tidak lagi berjalan sendirian.

Komentar
Posting Komentar