Misteri Hilangnya Loze: Siapa yang Berbohong?
Misteri Hilangnya Loze: Siapa yang Berbohong?
Jam dinding di kelas berdetak pelan, seolah menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat. Peopy duduk di bangkunya dengan punggung tegak, menatap papan tulis kosong yang sejak tadi tidak berubah.Sudah tiga hari sejak kabar itu
tersebar. Loze menghilang. Tidak ada yang benar-benar tahu
bagaimana itu terjadi. Guru hanya mengatakan bahwa pihak sekolah sedang
menyelidiki.
Teman-teman mengangkat bahu, lalu
kembali ke aktivitas masing-masing. Seolah kehilangan seseorang bukanlah
sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.
Namun bagi Peopy, ada yang mengganjal. Bukan hanya karena Loze adalah temannya, tetapi karena tidak ada satu pun orang yang tampak benar-benar peduli.
Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, mencoba mengusir perasaan tidak nyaman yang terus merayap di dadanya.
Semakin lama, semakin terasa seperti ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak terlihat, tetapi jelas ada.
“Lo masih kepikiran?” Suara itu memecah keheningan. Peopy menoleh. Minzypy duduk di kursi sebelah, dagunya bertumpu pada tangan, menatapnya dengan ekspresi santai.
Peopy mengangguk pelan. “Aneh aja. Harusnya kita cari sesuatu… bukan cuma nunggu kabar.”
Minzypy tersenyum tipis. “Kadang, yang dicari justru nggak mau ditemukan.”
Peopy mengernyit, tapi tidak membalas. Kalimat itu terasa seperti memiliki makna lain, sesuatu yang lebih dalam, tapi sulit dijelaskan.
Waktu berlalu dengan lambat. Terlalu lambat. Peopy mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak ia pedulikan.
Kursi Loze masih berada di tempatnya,
kosong, tak tersentuh. Tasnya masih tergantung di samping meja, seperti
ditinggalkan begitu saja. Tidak ada yang berani memindahkannya.
Seolah-olah semua orang sepakat untuk
berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Pandangan Peopy berhenti pada papan tulis di bagian belakang kelas.
Ada bekas goresan samar, seperti tulisan yang telah dihapus, tetapi masih meninggalkan bayangan tipis. Rasa penasaran mendorongnya untuk bangkit.
Ia melangkah perlahan, setiap langkahnya terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Ujung jarinya menyentuh permukaan papan tulis. Debu kapur menempel di kulitnya. Ia mengusapnya pelan.
Tulisan itu mulai terlihat.
“BAD LIES”
Napas Peopy tercekat.
“Bagus ya tulisannya?” Ucap Minzypy, Peopy menoleh cepat.
Minzypy sudah berdiri di belakangnya
tanpa ia sadari. Senyum Minzypy masih ada, tetapi kini terasa
berbeda, lebih tajam, lebih dalam.
“Lo yang nulis tulisan ini?” tanya Peopy.
Minzypy tidak langsung menjawab. Ia
berjalan melewati Peopy, lalu duduk di kursi Loze dengan santai, seolah itu
memang tempatnya. "Loze
juga nanya hal yang sama tuh.”
Tubuh Peopy menegang. “Maksud lo?”
Minzypy memiringkan kepalanya. “Dia
mulai sadar kalau semua orang di sini punya sesuatu yang disembunyikan. Tapi
dia salah satu hal.”
“Apa?” Terasa penasaran, membuat merinding, dan lainnya, seperti perasaan campur aduk dalam pikiran Peopy.
“Dia pikir kebohongan itu datang dari
orang lain.” Jawab Minzypy
santai. Dan keheningan kembali menyelimuti kelas.
Detik jam terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Peopy menggenggam tangannya, berusaha
menahan kegelisahan yang mulai membesar. “Lo
mau bilang apa?” tanyanya.
Minzypy menatapnya lurus. “Lo nggak
ngerasa aneh? Kenapa lo satu-satunya yang terus kepikiran dia? Kenapa lo yang
paling gelisah? Dan yang paling penting… kenapa lo nggak bisa ingat hari
terakhir dia ada?”
Pertanyaan itu seperti memukul sesuatu di dalam kepala Peopy. Ia mencoba mengingat, memaksa pikirannya menelusuri kembali kejadian beberapa hari lalu.
Namun yang muncul hanya potongan-potongan kabur: suara langkah kaki, bayangan lorong sepi, dan perasaan marah yang tidak jelas asalnya.
“Dia tahu sesuatu tentang lo,” bisik Minzypy. Peopy mundur selangkah. “Apa maksud lo…?”
Minzypy berdiri perlahan. “Loze itu sebenarnya nggak hilang. Dia hanya disembunyikan sama seseorang.”
“Siapa yang nyembunyiin Loze?” suara Peopy meninggi. Minzypy berhenti tepat di depannya.
“Lo.”
Sejenak, dunia terasa berhenti. Udara di dalam kelas seakan menekan dada Peopy, membuatnya sulit bernapas. “Gue? Udah pasti nggak mungkin,”
“Lo yakin?”
Kalimat itu memicu sesuatu. Tanpa peringatan, ingatan yang selama ini kabur tiba-tiba kembali dengan jelas, menghantam pikirannya tanpa ampun.
Tangga belakang sekolah. Langit sore yang redup. Loze berdiri di sana, wajahnya tegang, napasnya berat. “Gue tahu kok siapa lo sebenarnya,” katanya waktu itu.
Peopy ingat. Ia ingat semuanya.
“Lo itu bukan orang yang semua orang lihat. Mungkin yang orang lain lihat itu, diri lo ya kayak anak biasa aja, baik, lumayan pintar, dan? Ya apapun itu deh. Tapi…kenyataannya?”
Dan pada waktu itu… Peopy
tersenyum. Senyum
yang sama seperti Minzypy. Kembali
ke kelas, tubuh Peopy gemetar. “G-gue… gue nggak…”
Minzypy tertawa pelan. “Pasti capek ya? Pura-pura
jadi orang
baik terus.”
Peopy menggeleng, mencoba menyangkal.
Namun setiap kata yang ingin ia ucapkan terasa hampa.
“Ya emang bener sih diri lo itu Peopy,” lanjut Minzypy, “Tapi juga gue adalah bagian dari diri lo yang jujur.”
Peopy terdiam. “Maksudnya?”
“Gue yang ngomong apa yang lo sembunyiin.
Gue yang ngelakuin apa yang lo tahan. Dan gue yang ngingetin lo tentang
kebenaran.” Jawab Minzypy
sambil menyeringai ke arah Peopy.
“Lo itu nggak nyata…” bisik Peopy.
Minzypy tersenyum. “Terus kalau gue nggak
nyata, kenapa semua yang gue bilang masuk akal?”
Peopy melihat sekeliling kelas. Untuk
pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan.
Kursi-kursi itu kosong. Meja-meja tersusun rapi tanpa tanda pernah digunakan. Tidak ada tas lain. Tidak ada suara napas selain miliknya.
Seolah-olah kelas itu tidak pernah benar-benar diisi siapa pun.
“Teman-teman lo?” kata Minzypy pelan. “Lo sendiri yang bikin mereka diam. Lo butuh mereka supaya kelihatan normal.”
Napas Peopy mulai tidak teratur.
“Loze satu-satunya yang nggak bisa lo kontrol. Dia lihat semuanya… sama seperti gue.”
Air mata mengalir tanpa ia sadari.
“Jadi ya, kesimpulannya lo yang… ngilangin dia,” lanjut Minzypy. Peopy menutup telinganya. “Berhenti…”
“Dan sekarang lo bikin cerita. Seolah
semua orang bohong.” Minzypy
mendekat, suaranya semakin pelan. “Padahal
yang paling besar bohongnya… adalah lo sendiri.”
Jam dinding berhenti berdetak. Ruangan itu kembali sunyi. Kali ini benar-benar kosong.
Dan Peopy yang tersentak dalam diam pun akhirnya
mengerti.
Selama ini, ia tidak pernah mencari
kebenaran. Ia
hanya berusaha melarikan diri darinya.
Namun bagi Peopy, ada yang mengganjal. Bukan hanya karena Loze adalah temannya, tetapi karena tidak ada satu pun orang yang tampak benar-benar peduli.
Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, mencoba mengusir perasaan tidak nyaman yang terus merayap di dadanya.
Semakin lama, semakin terasa seperti ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak terlihat, tetapi jelas ada.
“Lo masih kepikiran?” Suara itu memecah keheningan. Peopy menoleh. Minzypy duduk di kursi sebelah, dagunya bertumpu pada tangan, menatapnya dengan ekspresi santai.
Peopy mengangguk pelan. “Aneh aja. Harusnya kita cari sesuatu… bukan cuma nunggu kabar.”
Minzypy tersenyum tipis. “Kadang, yang dicari justru nggak mau ditemukan.”
Peopy mengernyit, tapi tidak membalas. Kalimat itu terasa seperti memiliki makna lain, sesuatu yang lebih dalam, tapi sulit dijelaskan.
Waktu berlalu dengan lambat. Terlalu lambat. Peopy mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak ia pedulikan.
Pandangan Peopy berhenti pada papan tulis di bagian belakang kelas.
Ada bekas goresan samar, seperti tulisan yang telah dihapus, tetapi masih meninggalkan bayangan tipis. Rasa penasaran mendorongnya untuk bangkit.
Ia melangkah perlahan, setiap langkahnya terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Ujung jarinya menyentuh permukaan papan tulis. Debu kapur menempel di kulitnya. Ia mengusapnya pelan.
Tulisan itu mulai terlihat.
“BAD LIES”
Napas Peopy tercekat.
“Bagus ya tulisannya?” Ucap Minzypy, Peopy menoleh cepat.
“Apa?” Terasa penasaran, membuat merinding, dan lainnya, seperti perasaan campur aduk dalam pikiran Peopy.
Pertanyaan itu seperti memukul sesuatu di dalam kepala Peopy. Ia mencoba mengingat, memaksa pikirannya menelusuri kembali kejadian beberapa hari lalu.
Namun yang muncul hanya potongan-potongan kabur: suara langkah kaki, bayangan lorong sepi, dan perasaan marah yang tidak jelas asalnya.
“Dia tahu sesuatu tentang lo,” bisik Minzypy. Peopy mundur selangkah. “Apa maksud lo…?”
Sejenak, dunia terasa berhenti. Udara di dalam kelas seakan menekan dada Peopy, membuatnya sulit bernapas. “Gue? Udah pasti nggak mungkin,”
Kalimat itu memicu sesuatu. Tanpa peringatan, ingatan yang selama ini kabur tiba-tiba kembali dengan jelas, menghantam pikirannya tanpa ampun.
Tangga belakang sekolah. Langit sore yang redup. Loze berdiri di sana, wajahnya tegang, napasnya berat. “Gue tahu kok siapa lo sebenarnya,” katanya waktu itu.
“Lo itu bukan orang yang semua orang lihat. Mungkin yang orang lain lihat itu, diri lo ya kayak anak biasa aja, baik, lumayan pintar, dan? Ya apapun itu deh. Tapi…kenyataannya?”
“Ya emang bener sih diri lo itu Peopy,” lanjut Minzypy, “Tapi juga gue adalah bagian dari diri lo yang jujur.”
Kursi-kursi itu kosong. Meja-meja tersusun rapi tanpa tanda pernah digunakan. Tidak ada tas lain. Tidak ada suara napas selain miliknya.
Seolah-olah kelas itu tidak pernah benar-benar diisi siapa pun.
“Teman-teman lo?” kata Minzypy pelan. “Lo sendiri yang bikin mereka diam. Lo butuh mereka supaya kelihatan normal.”
Napas Peopy mulai tidak teratur.
“Loze satu-satunya yang nggak bisa lo kontrol. Dia lihat semuanya… sama seperti gue.”
“Jadi ya, kesimpulannya lo yang… ngilangin dia,” lanjut Minzypy. Peopy menutup telinganya. “Berhenti…”
Ngomongin soal tekanan di sekolah, kamu udah cek belum Vibe "Anti Bullying"! (Kuis Seru) yang aku buat di sini?" atau "Pahami lebih dalam soal dinamika pertemanan lewat postingan aku tentang Anti-Bullying: Hentikan Jadi Pelaku, Mending Jadi Suhu!.

Komentar
Posting Komentar