Ini Aku... Siang hari itu terasa tenang, angin berhembus pelan dari pepohonan yang berbaris di pinggir jalan. Dedaunan jatuh dari pohonnya satu persatu tertiup angin. Sinar matahari tidak terlalu terik untuk menyinari berbagai tempat sudut di desa. Suara anak-anak berlarian dengan riang gembiranya bergema di desa yang tenang dan damai. Juga suara kendaraan berlalu-lalang menaiki jalan tanjakan, menuruni jalan menurun, dan suara ban yang tergesek dengan tanah. Berbagai bau wangi harum dari bunga yang ditanam di samping pepohonan tercium di mana-mana. Setiap rumah di desa itu berbagai bentuknya, namun kebersihan selalu menjaga rumah itu. Pekarangan rumah terlihat hijau akibat di tanamnya tumbuhan, sayur-sayuran, dan lain-lain. Di rumah berwarna biru, lebih tepatnya di loteng atas rumah itu. Terdapat seorang remaja perempuan yang sedang membersihkan seisi loteng, sebut saja namanya Lea. Surat dari Masa Lalu Saat sedang asyik membersihkan barang-barang, ada satu kertas terlipat di atas mej...
The KaSiNa Circle: Sebuah Cerita Tentang Kepercayaan dan Persahabatan Sejati Langit pagi itu berwarna biru pucat, seperti belum sepenuhnya bangun dari tidur panjangnya. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman sekolah yang mulai ramai oleh suara tawa dan langkah kaki anak-anak. Namun, di antara semua keramaian itu, ada satu sudut kecil yang terasa lebih hidup dari yang lain, bangku kayu di dekat pohon ketapang. Dan di situlah semuanya bermula. “Eh, kamu ngerjain PR matematika nggak?” suara Khaira terdengar riang, hampir seperti lonceng kecil yang berdenting. Nadine yang sedang duduk sambil menatap buku catatannya hanya mengangkat bahu. “Setengah. Sisanya… ya nanti aja.” Khaira tertawa, lalu duduk di sampingnya tanpa ragu. “Kamu ini ya. Kalau bukan aku yang ingetin, pasti lupa terus.” Nadine menoleh, lalu tersenyum tipis. Ia bukan tipe yang banyak bicara, apalagi di tengah keramaian. Tapi bersama Khaira, semuanya terasa lebih mudah. Persahabatan mereka sudah dimul...
Legenda Blood Moon di Desa Fegic dan Rasa Penasaran Mela Mitos Bulan Merah yang Ditakuti Penduduk Desa Di desa Fegic, konon ada suatu legenda yang selalu dianggap benar oleh penduduk desanya: “Saat bulan merah terbit, seseorang akan dipilih lalu akan tunduk.” Namun, hingga saat ini tidak pernah ada yang membuktikan legenda itu, sementra di sisi lain rumor itu ditulis dengan tinta merah gelap di atas buku di dalam rak gudang lama rumah paling tua di desa itu. Mela adalah seorang gadis remaja biasa yang sangat takut akan legenda “Blood Moon” itu. Malam Pembuktian dan Kilatan Misterius di Cermin Hingga suatu malam datang, malam itu bukan malam yang biasa. Namun, malam yang mungkin akan menjadi Saksi pembuktian legenda Blood Moon, bulan merah di langit malam itu begitu terang dan membuat seluruh penduduk desa mengunci diri mereka masing-masing di dalam rumah mereka karena takut juga akan legenda itu. Berbeda dengan Mela, Mela mengamati bulan merah itu dari dalam jendela rumahnya, “The bloo...