ChocoLife: Rahasia di Balik Dunia yang Terlalu Manis

ChocoLife: Rahasia di Balik Dunia yang Terlalu Manis

Langit di dunia itu tidak pernah biru. Ia berwarna cokelat susu yang lembut, seperti permukaan minuman hangat yang baru diaduk. Awan-awan berarak pelan, berbentuk seperti krim kocok yang mengembang, memantulkan cahaya keemasan dari matahari karamel yang menggantung rendah. Udara terasa begitu manis. Bukan sekadar aroma, melainkan rasa yang benar-benar menempel di lidah setiap kali seseorang bernapas.

ChocoLife: Rahasia di Balik Dunia yang Terlalu Manis

Di kejauhan, sungai cokelat cair mengalir perlahan, berkilau seperti kaca yang dilelehkan. Sesekali gelembung kecil muncul di permukaannya, pecah dengan bunyi halus, menguarkan aroma yang semakin menggoda.

Pohon-pohon tumbuh tinggi di sepanjang tepian, batangnya dari cokelat pekat, sementara daunnya berupa lembaran permen tipis berwarna-warni. Angin yang berhembus pelan membuat daun-daun itu berdesir, menghasilkan suara seperti permen yang saling beradu.

Dan di tengah semua itu, berdiri seorang anak laki-laki. Choso.

Ia berdiri diam di atas jalan cokelat batang yang sedikit meleleh di bawah kakinya. “Ini… tempat apa?” gumamnya.

Ia menunduk, menyentuh tanah itu dengan ujung jari. Lengket. Manis. Ia menjilatnya sedikit. “Seriusan… ini cokelat?”

“Kalau bukan, kamu lagi jilat apa?” Suara itu datang dari belakangnya.

Choso menoleh cepat. Seorang gadis berdiri di sana, rambutnya dihiasi pita kecil berbentuk permen. Ia memegang batang cokelat panjang seperti tongkat. Poperi.

Choso mengernyit. “Kamu siapa?”

“Pertanyaan yang lebih penting,” jawab gadis itu santai, “kamu siapa dan kenapa bisa nyasar ke sini?”

Choso terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling lagi. “Gak tahu.” Poperi menghela napas pelan, lalu berjalan mendekat. Baiklah, kalau begitu…Selamat datang di ChocoLife,” katanya.

Choso menatapnya. “Choco… apa?”

“ChocoLife. Dunia cokelat. Dunia paling manis yang pernah ada.” Ia tersenyum tipis. “Dan biasanya, orang yang datang ke sini… gak datang tanpa alasan.”

Choso menyilangkan tangan. “Aku cuma lagi jalan.”

“Dan tiba-tiba masuk ke dunia cokelat?” Sambung Poperi. “…iya sih.”

Poperi menatapnya lama, lalu berbalik. “Yaudah, ikut aku.”

“Ke mana?”

“Kalau kamu terus berdiri di sini, nanti kakimu tenggelam. Jalan ini suka meleleh kalau kepanasan.” Choso langsung melihat ke bawah. Sepatunya memang mulai tenggelam sedikit. “Eh, serius?”

Poperi hanya melirik sekilas. “Ya kalau mau tetap di situ juga boleh.” Choso buru-buru menyusul.

Mereka berjalan melewati hutan permen. Setiap langkah menghasilkan bunyi lembut, seperti menggigit cokelat yang tipis.

Choso tak henti-hentinya melihat sekitar. “Itu beneran bisa dimakan?” tanyanya sambil menunjuk daun permen. Poperi mengangguk. “Coba aja.”

Choso memetik satu. Ia menggigitnya. Renyah. Manis. “Gila…” gumamnya. “Enak banget.”

“Ya iyalah,” sahut Poperi. “Namanya juga dunia cokelat.”

“Kalau aku makan semuanya, gimana?” Canda Choso. Poperi berhenti berjalan. Ia menoleh. “Coba aja kalau berani.”

Choso tertawa kecil. “Santai, aku gak serakah.” Poperi kembali berjalan tanpa menjawab.

Tak lama, mereka sampai di sebuah desa kecil.

Rumah-rumahnya terbuat dari cokelat batang, atapnya dari lapisan karamel yang mengilap. Jendela-jendelanya terbuat dari gula bening, memantulkan cahaya seperti kaca berwarna.

Beberapa orang berlalu-lalang, membawa keranjang berisi permen dan cokelat berbagai bentuk. “Ini rumahmu?” tanya Choso. “Bukan,” jawab Poperi. “Tapi aku tinggal di sini.”

“Bedanya apa?”

Poperi tidak menjawab. Ia menunjuk sebuah bangunan di tengah desa. Bangunan itu lebih besar dari yang lain.

Di atas pintunya tertulis: ChocoLife

Choso berhenti. “Tempat apa itu?”

“Tempat dimana kamu bakal ngerti kenapa kamu ada di sini.”

“Jawabannya gak bisa langsung?”

“Kalau semua jawabannya langsung sudah pasti kelihatan jelas,” kata Poperi sambil melangkah masuk, “hidup bakal membosankan.”

Di dalam, aroma cokelat terasa jauh lebih kuat.

Rak-rak penuh dengan berbagai jenis cokelat tersusun rapi. Ada yang berbentuk hati, lingkaran, bahkan ada yang bentuknya aneh, seperti potongan kecil kenangan yang membeku.

Di balik meja berdiri seorang laki-laki. Kemies. Ia sedang menuang cokelat cair ke dalam cetakan, gerakannya tenang dan presisi. Ia melirik sekilas saat mereka masuk. “Pengunjung baru?”

Poperi mengangguk. “Mungkin lebih tepatnya nyasar.” Kemies menatap Choso sebentar, lalu kembali ke pekerjaannya. “Seperti biasa.”

Choso mengernyit. “Seperti biasa apanya?” Tidak ada yang menjawab.

Hari itu, Choso mencoba banyak hal. Ia makan cokelat dari pohon. Minum dari sungai cokelat. Bahkan duduk di bangku yang terbuat dari marshmallow lembut.

Semua terasa… sempurna. Terlalu sempurna. “Gak ada yang gak enak di sini?” tanyanya suatu sore. Poperi yang duduk di sampingnya menggeleng. “Sejauh yang kamu rasakan.”

Choso tertawa kecil. “Tempat ini keren.” Kemies yang berdiri tidak jauh dari mereka tiba-tiba berkata, “Kalau semuanya manis, lama-lama kamu gak bakal bisa ngerasain apa-apa.”

Choso melirik. “Maksudnya?”

“Coba makan cokelat terus tanpa berhenti.”

“Ya enak dong.” Jawab Choso.

“Awalnya saja.” Gumam dingin dari Kemies.

Choso terdiam.

Hari-hari berlalu. Choso semakin terbiasa. Ia tertawa, makan, berjalan, mencoba semua hal yang ada.

Namun perlahan… Ada sesuatu yang berubah. Suatu pagi, ia menggigit cokelat dari pohon. Ia berhenti. “Mmm…” Ia menggigit lagi.

Lalu mengernyit. “Kenapa… rasanya biasa aja?” Ia mencoba yang lain. Sama. Tidak ada lagi sensasi yang dulu membuatnya kagum.

Ia berlari ke toko. “Poperi!”

Gadis itu menoleh. “Kenapa?”

Kenapa cokelatnya… rasanya beda.” Tanya Choso.

“Beda gimana?” Poperi bingung dengan pertanyaan Choso. Ya rasa cokelatnya gak semanis dulu.”

Poperi menatapnya. Lalu tersenyum tipis. “Bukan cokelatnya yang berubah.” Choso terdiam. “Terus?”

“Lidahmu yang mulai terbiasa.” Kemies menambahkan pelan, “Kalau semua yang kamu rasakan manis… kamu akan lupa rasanya manis itu sendiri.”

Choso mengepalkan tangan. “Jadi… sekarang gimana?”

Poperi berdiri. “Sekarang, kamu pilih.”

“Pilih apa?”

“Tetap di sini… dan kehilangan rasa.”

“Atau?”

“Atau kembali… ke dunia yang gak selalu manis.”

Choso menunduk. Ia melihat tangannya. Lengket oleh cokelat.

Manis.

Namun… kosong.

Ia berjalan keluar desa. Langit masih cokelat. Sungai masih mengalir. Semua masih sama.

Namun rasanya… berbeda. Ia berhenti. Menatap jauh ke depan. “Kalau aku pergi…” katanya pelan, “Apakah aku bisa balik?”

Poperi yang berdiri di belakangnya menjawab, “Mungkin.”

“Dan jika kalau aku tetap di sini?”

Kemies berkata, “Kamu gak akan sadar kapan kamu berhenti merasakan.”

Hening. Choso menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, udara manis itu terasa… terlalu berat.

Ia melangkah maju. Menjauh dari desa. Menjauh dari dunia cokelat. Setiap langkah terasa aneh.

Namun… nyata.

Saat ia melangkah keluar, dunia berubah. Langit kembali biru. Udara tidak manis. Angin terasa biasa saja.

Choso berdiri diam. Lalu… tersenyum kecil. Ia mengambil sesuatu dari sakunya. Sepotong cokelat kecil. Ia menggigitnya.

Dan kali ini, rasanya manis. Benar-benar manis.

Di kejauhan, suara Poperi terdengar samar, “Kadang… supaya sesuatu tetap terasa manis…”

Suara Kemies menyambung, “kita harus tahu rasanya yang lain.”

Apakah untuk mendapatkan kebahagiaan, kita hanya perlu yang manis saja?. Oh!, tidak…Hidup tak selalu terasa manis…


Komentar

— Loading —

Yang lagi viral niih...

Kisah Lea: Bangkit dari Keterpurukan dan Mengejar Impian Menjadi Penulis

The KaSiNa Circle: Sebuah Cerita Tentang Kepercayaan dan Persahabatan Sejati

Dibalik Bulan Merah: Cerita Pendek Fantasi Misteri yang Mencekam