Harta Buku Peta Kerajaan Dan Kota Juvin
Harta Buku Peta Kerajaan Dan Kota Juvin
Di suatu pagi yang
terasa lebih sunyi dari biasanya, sebuah kabar menggetarkan seluruh penjuru
kota.
“SEKILAS BERITA HARI
INI: DIKABARKAN BUKU TAHTA TERTINGGI KERAJAAN DI KOTA JUVIN DINYATAKAN HILANG
TANPA JEJAK.”
Suara dari televisi
itu menggema di ruang tamu kecil milik Venze. Ia duduk bersandar di sofa,
matanya terpaku pada layar.
“Wah… dahsyat…
sampai-sampai buku tahta kerajaan itu saja
hilang,” gumamnya, setengah tak percaya.
Bukan hanya Venze.
Dalam hitungan jam, seluruh kota Juvin telah mendengar kabar itu. Orang-orang
berhenti berbicara di jalanan, para pekerja di perpustakaan saling berbisik,
dan penjaga kerajaan mendadak menggandakan patroli.
Buku Tahta Tertinggi
bukan buku biasa. Ia disimpan di ruang terdalam kerajaan “Book Is Your Wish”,
dijaga oleh sistem keamanan paling canggih, laser-laser tipis yang membentuk lorong berbahaya, dan hanya dapat dilalui
oleh seseorang dengan ketepatan gerak yang luar biasa.
Dan kini, buku itu
lenyap.
Sannytwis berdiri di
tengah ruang penyimpanan kerajaan. Sorot matanya tajam, menelusuri setiap sudut
ruangan. Di tangannya, sebuah kaca pembesar bergerak perlahan mengikuti
jejak-jejak halus yang hampir tak terlihat.
“Tidak ada tanda
paksaan,” katanya pelan.
Beberapa anggota tim
polisi berdiri di belakangnya, menunggu instruksi. Di sisi lain, seorang
perempuan berdiri dengan tenang, memperhatikan dengan saksama.
Ia adalah Cloppie, orang yang sejak awal ikut membantu penyelidikan.
“Bagaimana mungkin
seseorang bisa melewati laser tanpa menyentuhnya?” tanya salah satu petugas.
Sannytwis tidak
langsung menjawab. Ia berjongkok, memperhatikan lantai. Ada bekas gesekan yang
sangat tipis. “Seseorang yang sangat
lincah,” ujarnya. “Dan sudah pasti sangat terlatih.”
Cloppie mengangguk pelan, seolah membenarkan. “Atau juga seseorang itu yang sudah
tahu pola laser itu.”
Sannytwis meliriknya
sekilas, lalu kembali fokus. Ia mulai menyusun potongan-potongan bukti, yakni serpihan kain hitam,
jejak sepatu yang samar, dan waktu kejadian yang sangat presisi.
“Semua ini bukan
kebetulan,” katanya.
Hari-hari berikutnya
dipenuhi penyelidikan. Data warga dikumpulkan, gerak-gerik mereka dicocokkan
dengan bukti yang ada. Nama demi nama diperiksa.
Dan tanpa disangka,
sebagian besar bukti itu mengarah pada satu orang: Roccebs.
Roccebs duduk di ruang
interogasi, tangannya gemetar. Ia mencoba menjawab setiap pertanyaan, tetapi
kata-katanya tersendat. “A-a-aku…
ti-tidak… me-melakukan…”
Petugas yang
menginterogasinya saling berpandangan. Kegugupan itu justru membuatnya terlihat
semakin mencurigakan.
“Kenapa bukti-bukti
mengarah ke kamu?” tanya salah satu petugas dengan nada tegas. Roccebs menunduk, wajahnya pucat. “A-aku… ti-tidak tahu…”
Sannytwis berdiri di
sudut ruangan, memperhatikan. Ada sesuatu yang tidak beres. Ketakutan Roccebs
terasa nyata, bukan dibuat-buat.
Namun bukti tetaplah
bukti. Di luar ruang
interogasi, Cloppie berdiri
dengan ekspresi prihatin. “Kasihan,”
katanya pelan. “Kalau memang dia tidak bersalah…”
Sannytwis menatapnya.
“Kebenaran tidak ditentukan oleh rasa kasihan.”
Cloppie hanya tersenyum tipis.
Malam itu, di sebuah
rumah yang jauh dari pusat kota, lampu menyala redup. Cloppie duduk di depan meja, membuka sebuah buku yang diselimuti kain hitam.
Buku itu adalah Buku
Tahta Tertinggi.
Tangannya bergerak
cepat membalik halaman. Matanya menelusuri setiap tulisan, setiap peta, setiap
catatan yang tersembunyi di dalamnya.
Di antara
halaman-halaman itu, terdapat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar
kekuasaan, yaitu peta menuju
Pulau Boonaes dan Pulau Benebie.
Pulau Boonaes dikenal
sebagai tempat para penyunting bekerja, mengedit isi buku di perpustakaan
raksasa. Namun Pulau Benebie… adalah misteri. Tidak banyak yang tahu apa yang
ada di sana.
Kecuali Cloppie.
Ia berhenti di satu
halaman. Di sana tergambar jalur laut yang rumit, dengan catatan kecil di
pinggirnya.
“Arus berbalik setiap
tiga malam… hanya dapat dilalui saat fajar…”
Cloppie menarik napas dalam. “Aku akan menemukanmu,” bisiknya.
Malam itu, ia menutup
buku dengan hati-hati. Tanpa diketahui siapa pun, ia telah merencanakan
perjalanan yang tidak pernah berani dilakukan oleh warga Juvin.
Beberapa hari
kemudian, kabar aneh mulai beredar.
Seseorang terlihat
berlayar menuju arah yang tidak biasa. Penelitian tentang Pulau Benebie kembali
dibicarakan. Harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu.
Di sisi lain,
penyelidikan masih berjalan. Roccebs hampir ditetapkan sebagai tersangka utama.
Namun sesuatu mulai
berubah. Sannytwis menemukan
rekaman dari kamera pengawas yang sebelumnya terlewatkan.
Ia memutar ulang
rekaman itu berulang kali. Sosok
berpakaian hitam terlihat melesat di antara laser dengan kecepatan luar biasa.
Gerakannya begitu halus, hampir seperti bayangan.
Dan saat sosok itu
menoleh sejenak, Sannytwis
terdiam. “Itu…” gumamnya.
Wajah itu tidak asing.
Di sebuah dermaga
terpencil, sebuah perahu kecil kembali berlabuh. Cloppie turun dengan langkah pelan. Di belakangnya, seorang perempuan berjalan
tertatih, tetapi matanya penuh harapan.
Perempuan itu adalah
ibunya.
Perjalanan ke Pulau
Benebie bukanlah hal mudah. Ombak yang berbalik arah, kabut tebal, dan jalur
yang nyaris tak terlihat hampir membuat mereka tidak kembali.
Namun peta itu benar. Semua yang tertulis di dalam buku itu… benar.
Warga yang mengetahui
kabar itu mulai berdatangan. Mereka terkejut, sekaligus takjub. “Jadi Pulau Benebie itu nyata…”
“Dan bisa kembali dari
sana…”
Penelitian pun kembali
dimulai. Kota Juvin yang semula diliputi kecemasan, kini dipenuhi rasa ingin tahu. Namun di tengah keramaian itu Cloppie melangkah maju. “Aku ingin
mengatakan sesuatu,” ujarnya.
Suasana mendadak
hening. Sannytwis berdiri
tidak jauh darinya, menatap dengan tajam. Cloppie menarik napas panjang. “Akulah yang
mencuri buku itu.”
Bisikan mulai
terdengar di antara kerumunan.
“Aku yang masuk ke
ruang penyimpanan, melewati laser, dan mengambilnya,” lanjutnya. “Aku
melakukannya sendirian.”
Sannytwis tidak tampak
terkejut. “Dan Roccebs?”
tanyanya.
Cloppie menunduk. “Dia tidak bersalah. Dia hanya… aku minta untuk berpura-pura
menjadi mencurigakan. Aku butuh pengalihan.”
Semua mata beralih ke
Roccebs, yang berdiri di antara kerumunan dengan wajah bingung. “Aku… ti-tidak tahu… a-apa yang ter-jadi…” katanya pelan.
Cloppie menatapnya penuh penyesalan. “Maaf.”
Sannytwis melangkah
mendekat. “Kenapa?” tanyanya
singkat.
Cloppie menatap ibunya yang berdiri di belakang. “Karena di kota ini, buku adalah segalanya. Tapi ada satu buku yang tidak
bisa dimiliki siapa pun… kecuali aku harus melanggarnya.”
Ia mengangkat
wajahnya. “Peta itu adalah
satu-satunya cara untuk menemukan ibuku.”
Hening. Tidak ada yang langsung menjawab.
Sannytwis menatapnya
lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak segera memberikan keputusan. “Jadi semua ini… bukan tentang kekuasaan,” katanya pelan.
“Bukan,” jawab Cloppie. “Ini tentang
seseorang yang tidak ingin kehilangan keluarganya.”
Angin berembus pelan
di antara mereka.
Kasus yang semula
tampak sebagai kejahatan besar, kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih
rumit.
Sannytwis menutup
matanya sejenak, lalu berkata, “Hukum tetaplah hukum.” Cloppie mengangguk. “Aku
tahu.”
Namun sebelum siapa
pun bergerak, suara dari kerumunan terdengar. “Tanpa dia, kita tidak akan tahu tentang Pulau Benebie.”
“Tanpa dia, tidak ada
yang kembali dari sana.”
Sannytwis membuka
matanya. Untuk pertama kalinya
dalam kariernya, ia menghadapi sesuatu yang tidak bisa diselesaikan hanya
dengan logika.
Ia menatap Cloppie, lalu buku yang kini
kembali berada di tangan kerajaan. “Kasus ini… belum selesai,” katanya.
Namun kali ini, bukan
karena kurangnya bukti. Melainkan
karena kebenaran yang tidak lagi hitam dan putih.
Di kota Juvin, buku memang menentukan segalanya. Tetapi malam itu, semua orang mulai menyadari, bahwa di balik setiap halaman, selalu ada cerita yang tidak bisa dihakimi hanya dari apa yang tertulis.

Cerpennya menginspirasi dan penuh misteri!
BalasHapus