Stick With You
Stick With You
Di antara orang-orang yang berjalan berlawanan arah, ada seorang gadis berdiri diam di dekat tiang listrik. Rambutnya panjang, wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, tetapi tatapannya jelas mengarah ke Pinyty.
Saat mata mereka bertemu, gadis itu tidak
mengalihkan pandangan. Ia justru tersenyum tipis, seolah mengenalnya.
Pinyty segera menoleh kembali dan
mempercepat langkah. Ia tidak ingin terlihat panik, tetapi jantungnya berdetak
lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya
kebetulan.
Banyak orang di jalan, mungkin saja gadis
itu memang sedang melihat ke arah yang sama. Namun perasaan tidak nyaman itu
tidak hilang bahkan setelah ia sampai di rumah.
Saat pintu tertutup, ia baru menghela
napas lega, tetapi hanya sesaat. Rumahnya terasa terlalu sunyi. Ia meletakkan
tas di kursi, duduk, lalu mengambil ponselnya untuk mengalihkan pikiran.
Tepat saat layar menyala, sebuah pesan
masuk dari nomor tak dikenal. “Aku akan tetap bersamamu.”
Pinyty membaca kalimat itu berulang kali.
Ia tidak mengenali nomor tersebut. Tanpa banyak berpikir, ia membalas, “Siapa
ini?” Balasan tidak langsung datang.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Akhirnya muncul satu pesan lagi, “Kamu lupa ya?” Jari Pinyty terasa
dingin. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang ia lakukan sebelumnya, tetapi tidak
ada yang terasa benar-benar jelas.
Ia menutup percakapan itu, berusaha
menganggapnya sebagai pesan iseng. Namun malam itu ia sulit tidur. Setiap kali
memejamkan mata, ia teringat senyum gadis di jalan tadi.
Keesokan harinya di sekolah, Pinyty
menceritakan kejadian itu kepada Choso. Mereka duduk bersebelahan di
kelas, sementara suara guru terdengar samar di depan.
Choso mendengarkan dengan wajah serius,
meskipun sesekali ia mencoba menenangkan suasana. “Bisa saja itu cuma orang
iseng, Pin. Nomor tidak dikenal itu sering terjadi.”
Pinyty menggeleng pelan. “Kalau cuma
pesan, mungkin. Tapi aku juga melihat orangnya.” Choso terdiam sejenak. “Kamu
kenal?”
Pinyty ragu. “Rasanya… iya. Tapi aku tidak
ingat siapa.”
Dari bangku belakang, Hecio yang
sejak tadi diam tiba-tiba ikut berbicara, “Kalau kamu merasa diikuti, sebaiknya
jangan diabaikan.” Nada suaranya datar, tetapi cukup membuat Pinyty semakin
tidak nyaman. Choso menoleh ke arahnya. “Jangan langsung bikin dia takut.”
Hecio mengangkat bahu. “Aku cuma bilang
fakta.”
Hari itu berjalan lambat. Pinyty tidak
bisa fokus. Ia beberapa kali menoleh ke arah jendela, seolah berharap tidak
melihat apa-apa, dan sekaligus takut jika benar-benar melihat sesuatu.
Hingga pada satu momen, saat ia kembali
melirik keluar, napasnya tertahan. Gadis itu berdiri di sana, di luar kelas,
setengah tersembunyi di balik tembok. Kali ini wajahnya terlihat lebih jelas.
Dan seketika itu juga, Pinyty merasakan
sesuatu yang aneh, perasaan bahwa ia benar-benar mengenal wajah itu. Namun
sebelum ia sempat memastikan, gadis itu berbalik dan pergi.
Sepulang sekolah, Choso menawarkan untuk
menemani Pinyty. Mereka berjalan bersama, sementara Hecio menyusul di belakang.
Jalanan tidak terlalu ramai, tetapi masih
cukup aman. Pinyty mencoba mengabaikan perasaan gelisahnya, sampai ponselnya
bergetar lagi.
Pesan dari nomor yang sama. “Aku di
belakangmu.” Langkah Pinyty langsung terhenti. Choso menoleh. “Kenapa?” Pinyty
menunjukkan layar ponselnya. Wajah Choso berubah tegang. Perlahan, mereka
bertiga menoleh ke belakang.
Gadis itu berjalan mendekat.
Langkahnya tenang, tidak terburu-buru.
Jarak mereka semakin dekat. Pinyty merasa kakinya sulit digerakkan. Saat wajah
gadis itu akhirnya terlihat jelas, seluruh tubuhnya terasa dingin.
Ia mengenalnya.
“Tidak mungkin…” bisik Pinyty. Gadis itu
tersenyum. “Sekarang kamu ingat.”
Choso berdiri kaku di samping Pinyty.
Hecio juga tidak bergerak.
Tidak ada yang mencoba lari. Tidak ada
yang berteriak. Situasi itu terasa terlalu lambat, terlalu tenang, seolah
semuanya sudah diatur.
“Kamu…” suara Pinyty gemetar, “kamu pindah
sekolah, kan?” Gadis itu menggeleng pelan. “Kamu yang meninggalkanku.”
Kata-kata itu langsung memukul ingatan
Pinyty. Potongan-potongan kejadian yang selama ini ia tekan mulai muncul
kembali. Mereka pernah sangat dekat. Selalu bersama.
Sampai suatu hari mereka bertengkar hebat.
Tentang sesuatu yang sebenarnya sepele, tetapi berubah menjadi besar karena
emosi.
Hari itu hujan. Jalanan licin. Mereka
saling berteriak di pinggir jalan. Dan dalam satu momen yang tidak ia sadari
sepenuhnya, Pinyty mendorongnya.
Tidak keras. Tidak disengaja. Namun cukup
membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke jalan saat sebuah motor
melaju.
Pinyty membeku. Ia ingat semuanya
sekarang. “Bukan… itu kecelakaan…” katanya pelan. Gadis itu menatapnya tanpa
ekspresi. “Tapi kamu tidak pernah datang menjenguk.” Suara itu tidak marah.
Justru terlalu tenang.
“Aku takut…” bisik Pinyty. “Kamu bahkan
tidak pernah bertanya apakah aku masih hidup.”
Pinyty tidak bisa menjawab. Choso
tiba-tiba berbicara, suaranya pelan, “Pin… dia memang masih hidup.”
Pinyty menoleh cepat. “Apa?” Hecio
menambahkan, “Dia tidak meninggal. Dia koma hampir setahun.”
Dunia Pinyty terasa berputar. “Apa maksud
kalian…?” Gadis itu melangkah lebih dekat. “Aku bangun. Dan aku ingat
semuanya.”
“Kenapa kalian tidak pernah bilang?” suara
Pinyty hampir pecah. Choso menghela napas. “Kami tidak tahu harus mulai dari
mana. Kamu langsung menjauh dari semuanya.”
Hecio menatap Pinyty tajam. “Kamu
menghilang lebih dulu.” Semua terasa runtuh sekaligus.
Pesan-pesan itu. Kemunculan gadis itu. Semua
bukan hal gaib. Semua nyata. Dan jauh lebih mengerikan.
“Aku cuma ingin kamu ingat,” kata gadis
itu pelan. “Karena kamu satu-satunya orang yang terus berpura-pura tidak
terjadi apa-apa.”
Pinyty mundur selangkah. “Jadi semua ini…
kamu yang kirim pesan?”
Gadis itu mengangguk. “Aku ingin tetap
bersamamu. Sesuai janji kita dulu.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada
sesuatu yang membuatnya terasa seperti ancaman.
Choso menatap Pinyty. “Kami membantu dia
menemukanmu.” Pinyty membeku. “Apa?” Hecio tidak mengalihkan pandangan. “Kami
pikir kamu harus menghadapi ini.”
Sunyi.
Tidak ada lagi suara kendaraan yang
terasa. Tidak ada angin. Hanya napas mereka bertiga, atau berempat, yang terdengar.
Pinyty akhirnya menyadari sesuatu yang
lebih menusuk daripada rasa takut. Selama ini ia tidak diikuti. Ia dicari.
Dan orang-orang yang ia anggap tempat aman,
justru yang membawa masa lalunya kembali. Gadis itu tersenyum tipis. “Sekarang
kamu tidak bisa lari lagi.”
Pinyty menatap mereka satu per satu. Choso.
Hecio. Gadis itu. Tidak ada yang tampak seperti ancaman secara langsung. Namun
justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berbahaya.
Karena ini bukan tentang hantu. Bukan
tentang bayangan.
Melainkan tentang sesuatu yang nyata, yang
bisa menyentuhnya, mengikuti langkahnya, dan memastikan ia tidak pernah
benar-benar pergi.
“Aku akan tetap bersamamu,” ulang gadis
itu pelan. Dan kali ini, Pinyty tahu persis artinya.
Bukan janji persahabatan. Bukan kenangan
lama. Melainkan pengawasan. Pengingat.
Dan mungkin… hukuman.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi
setelah ini.
Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan
pernah berjalan sendirian lagi.
Gadis itu hanya mencari Pinyty, hanya karena sebuah janji. Itulah yang disebut dengan “JANJI” Sesuatu yang harus ditepati. Stick With You, janji akan selalu menempel pada orang yang mengucapkan kata “JANJI”.

Atmosfernya bikin merinding dari awal hingga akhir!, juga plot twistnya ga bisa disangka!
BalasHapus